Food For Nation

Food For Nation Food For Nation (FFN) merupakan gerakan sosial yang bergerak di bidang pangan dan teknologi untuk mewujudkan pangan Indonesia yang berdaulat~

Happy International Coffee Day~
01/10/2016

Happy International Coffee Day~

Happy Eid Adha, kisanak~May the great blessings of Allah fill your life with peace joy and prosperityCheers~-khurrosuke
12/09/2016

Happy Eid Adha, kisanak~

May the great blessings of Allah fill your life with peace joy and prosperity

Cheers~
-khurrosuke

|| Food For Nation signature t-shirt ||Kufi Art Nusantara IDR 65KCotton Combed 30s******Khat Kufi atau biasa disebut Kuf...
26/08/2016

|| Food For Nation signature t-shirt ||

Kufi Art Nusantara
IDR 65K

Cotton Combed 30s

******

Khat Kufi atau biasa disebut Kufi adalah seni kaligrafi Arab tertua yang jadi embahnya semua kaligrafi yang ada di dunia ini. Sementara itu, Nusantara kita terkenal dengan kekayaan budayanya, salah satunya adalah beragam aksara Nusantara yang berbeda-beda di setiap daerah.

Nah.. ceritanya nih kita mencoba mengkawinkan antara seni kuno mancanegara dengan aksara kuno nusantara dan hokya.. terwujudlah sebuah kaos bertoreh aksara jawa yang dibingkai dalam indahnya kufi yang siap diorder mulai pagi ini, wahai kisanak.

******

oiya.. semuanya made by order.
Jadi berapapun yang order akan dicetak~

dan nyatanya jumat depan cetaaak!! so, grab it fast ya, wahai kisanak~

Pemesanan dilakukan tiap hari sampe kamis, 1 september 2016, dengan cara..

PM ke official page Food For Nation
ketik: nama-ukuran kaos-alamat-no.telepon(wa)
contoh: kurrosuke-xl-jogja-08562551690

|| Berbuka dengan yang Manis? Think Again! ||Berbuka puasa selalu identik dengan sesuatu yang manis. Entah itu kolak, te...
07/06/2016

|| Berbuka dengan yang Manis? Think Again! ||

Berbuka puasa selalu identik dengan sesuatu yang manis. Entah itu kolak, teh manis, atau bahkan nyamilin gula pasir. Entah sejak kapan budaya macam ini berkembang, tapi kebanyakan masyarakat memandang hal ini tuh semacam sunnah Rasul gitu. Hngg bener ga sih?

Sebenernya dari berbagai hadits, Rasul menganjurkan berbuka dengan kurma basah, kurma kering, atau pake air putih. Mungkin karena kurma jarang di Indonesia zaman dahulu, masyarakat jadi memaksakan yang penting manis kayak kurma dah.

Haduuh padahal beda lho manisnya kurma sama gula.

Menurut buku tebel yang pernah gue baca dan sekarang sudah ngambang dikali, kurma basah itu manisnya ga bikin diabetes. Ternyata kurma walau mengandung gula alami yang tinggi, namun indeks glikemiknya rendah.

Indeks glikemik (IG) tu semacam nilai untuk mengetahui cepat lambatnya makanan menaikkan gula dalam darah. Kalau IGnya rendah maka kenaikan gula dalam darah berlangsung lambat.

Beda cerita kalau yang dikonsumsi makanan yang sangat manis yang kebanyakan IGnya tinggi. Tubuh akan shock karena asupan gula yang tinggi, sehingga akan segera diproduksi insulin dalam jumlah besar.

Gula yang berlebih akan diubah insulin menjadi glikogen yang akan disimpan dalam lemak di bawah kulit. Nah itulah kenapa kalau pada banyak makan manis pas berbuka, waktu lebaran badan ikutan lébaran (read: melebar).

Selain itu Insulin yang terlalu sering diproduksi secara besar-besaran dapat membuat responsivitasnya menurun. Lama kelamaan walaupun gula dalam darah naik, insulin akan males buat mengatasinya. Ini nih yang dinamakan penyakit gula atau diabetes.

FYI nasi itu juga IG nya tinggi lho. Jadi ati-ati juga kalau kebanyakan makan nasi.

Mendingan coba deh cari pengganti kurma yang sama-sama memiliki IG rendah. Bersukurlah kalian yang hidup di Indonesia yang kaya akan pangan lokal yang IGnya rendah. Semacam singkong, beras merah, gembili, ganyong, talas, sukun, dan masih banyak lagi. Hebat kan!!

So, kenapa harus yang manis kalau malah bikin penyakit? Mendingan cari yang setia.

Cheers~

Oleh Kurosuke dalam buletin Embun edisi Ramadhan
Keluarga Mahasiswa Muslim Teknologi Pertanian UGM

*****

Hey, itu tadi artikel mimin yang kebetulan diminta ngisi buletin salah satu Lembaga Dakwah Fakultas di UGM. Padahal biasanya cuman bisa ngisi buletin TTS yang covernya naujubilleh banget dah. Hngg semoga bisa mencerahkan yaak~

Oiya kalau pengen tau info-info menarik seputar ramadhan lainnya di buletin Embun secara online dengan klik link dibawah ini:

https://issuu.com/kzalwan/docs/upload?e=24612186/36276411

Selamat berbukaaa kesayangan-kesayangankuu~

|| Tahu Bulat dalam Sudut Pandang Teknologi Pertanian ||"Tahu bulat, digoreng dadakan, di mobil, limaratusan, gurih-guri...
05/05/2016

|| Tahu Bulat dalam Sudut Pandang Teknologi Pertanian ||

"Tahu bulat, digoreng dadakan, di mobil, limaratusan, gurih-gurih enyoy"

Mungkin seperti itulah lirik khas dari sebuah theme song penjual tahu bulat di atas pick up nya. Suaranya yang lambat nan kampleng-able menghipnotis puluhan pembeli untuk membeli tahu yang hampir di semua tempat ada ini.

Harganya yang murah dan rasanya yang gurih-gurih enyoy -micin semua tuh hehe- membuat orang tak sabar menikmati kelezatannya. Apalagi pake nasi anget. Surga dunia banget laah~

Oiyaa ngomongin tahu bulat, pernah kepikiran ga sih, kenapa harus digoreng dadakan? Dan kenapa suara penjualnya minta dikasihani banget gt??

Hnggg, sini mimin perkenalkan dengan pak Irvan Kartawiria. Seorang doktor dibidang teknologi pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor yang kemaren sempet menjadi peserta Stand Up Comedy Indonesia 6 di salah satu stasiun TV swasta.

Komika yang juga merupakan dosen di Swiss German University ini membawakan materi-materi stand up penuh dengan data dan fakta ilmiah. Yep data-data ilmiah yang bisa bikin mahasiswa ketiduran di kelas itu berhasil disulapnya jadi bahan ketawaan yang cerdas dan berkarakter. Gils~

Nah, belum lama ini, pak Irvan bikin tweet menarik tentang tahu bulat dari sudut pandang seorang Teknolog pangan. Seperti apa Chirpstory nya pak Irvan. Nih liat sendiri daaah...

°°°°°°
1. Ada alasan ilmiah kenapa tahu bulet harus digoreng dadakan.. Jadi gini..
Bentar, tolong siap-siap kalo ternyata twitnya panjang ya..

2. Tahu bulet dalam keadaan mentah, memang sudah bulet, tapi belum sempurna. Rada penyok-penyok gitu.. Utk bulet sempurna, harus digoreng.

3. Pada proses penggorengan, tahu bulet dicelup ke minyak dengan suhu 150-160C. Pada suhu ini, air pada tahu akan berubah fase dengan cepat..

4. Kandungan air pada tahu (sekitar 80%) ini akan berubah jadi uap dg cepat, lalu terjadi ekspansi, menekan permukaan tahu bulet ke arah luar

5. Akibat ekspansi ke segala arah, ukuran tahu bulet bertambah searah diameter dan permukaannya merata menjadi bulat sempurna..

6. Pada saat yg sama, saat permukaan tahu mencapai suhu 120-130C, terjadi reaksi Maillard antara protein, minyak dan kandungan gula..

7. Reaksi Maillard di permukaan tahu bulet ini membuat warnanya jadi coklat, dan membentuk struktur crust yang secara fisik cukup kokoh. Tapi..

8. Tapi karena struktur crust ini berpori, maka tekanan uap dari dalam tahu bisa keluar. Akibatnya tekanan akan berkurang setelah tahu diangkat

9. Untuk menjaga tahu bulat tetap bulat, tahu harus dijaga suhunya. Pasokan tekanan uap dari dalam terjaga, struktur crust kokoh membentuk bola

10. Maka, tahu bulet harus digoreng dalam jangka waktu sedekat mungkin dengan saat penyerahan produk ke konsumen. Hence, 'digoreng dadakan'..

11. Kalo nggak, tekanan uap dari dalam menghilang, di dalam tahu mungkin terjadi vakum kecil dan struktur crust ga cukup nahan tekanan atmosfer

12. Akibatnya, tahunya jadi meleyot. Nggak bulet lagi..

13. Nah, memang urusan tahu bulet digoreng dadakan itu urusannya sama termodinamika. Diagram fase air, suhu, dan tekanan..

14. Apakah ini artinya sebenarnya tahu bulet ga baik digoreng dadakan? Kan minyaknya udah dipanasin dulu 30 menit. OK, kita sepakatin dulu..

15. Terminologi "dadakan" merujuk pada 'digoreng begitu ada yg mau beli', bukan 'mendadak'. Biasanya kan mamang gorengan nyetok produk jadi..

16. Nah, pemanasan minyak dengan api kecil ini tujuannya supaya suhu penggorengan pas dan heat transfer ga kecepetan. Masalahnya ginii...

17. Kalo apinya kegedean, yg terjadi adalah penguapan air yg terlalu cepat sementara crusting belum terjadi. Akibatnya, struktur tahu lemah..

18. Atau sebaliknya, crusting terjadi sangat cepat, sementara penguapan belum maksimal. Akibatnya tahu tidak mengembang sempurna, dalamnya basah

20. Dua-duanya mengakibatkan tahu bulet mudah kolaps dan meleyot..

21. Sphericity (kebulatan) tahu ini critical quality, karena sebenernya feature tahu bulet yg lain kan sama aja sama tahu goreng biasa..

22. Sphericity itu 'indeks seberapa bulat sebuah benda dibandingkan bola'. Bola sphericity-nya 1.0

23. Belajar termodinamika yg baik, supaya tahu-mu bisa bulat sempurna..
°°°°°°

Gilak, dalam segelinding tahu bulat terdapat ilmu termodinamika yang kompleks. Jadi keinget sama mata kuliah thermal proses yang mimin ulang semester ini TT.TT

Doain dapet A yaak!! Eh asal ga dapet C aja deh hehe

Cheers~
-kurosuke

sumber:
chirpstory.com
kompasiana.com

sumber gambar: brilio.net

|| Manfaat Makanan Pokok Nusantara Bagi Kesehatan ||Sebagai lanjutan postingan sebelumnya mengenai ragam makanan pokok n...
29/04/2016

|| Manfaat Makanan Pokok Nusantara Bagi Kesehatan ||

Sebagai lanjutan postingan sebelumnya mengenai ragam makanan pokok nusantara pengganti beras, mimin mau bahas manfaatnya untuk kesehatan tubuh kita. Supaya kita tahu bahwa makanan tersebut ternyata memang memiliki keunggulan tersendiri dibanding beras

Jewawut
Jewawut memiliki kandungan karbohidrat sebesar 75% yang mendekati kandungan karbohidrat pada beras yaitu sebesar 79%. Keunggulan lainnya dari tanaman jewawut adalah kandungan proteinnya sebanyak 11%, yang lebih tinggi dibandingkan kandungan protein beras yang hanya mencapai 7%. Dalam 100 gr jewawut mengandung 28 mg kalsium, 311 mg fosfor, zat besi 5 mg, ini menjadikan jewawut berpotensi dapat memperkuat tulang. Selain itu, jewawut juga mengandung vitamin b1, b2, dan vitamin C

Sorghum
kandungan karbohidrat sorgum relatif sama dengan beras yaitu 72%, kadar protein sorghum juga lebih besar daripada beras yaitu sebesar 10,6%. Sorgum mengandung banyak suber gizi, antara lain adalah serat, antioksidan, vitamin seperti niacin, thiamin dan riboflavin serta mineral seperti magnesium, zat besi, kalsium, dan kalium. Kandungan gizi tersebut membuat sorghum berpotensi menjadikan pencernaan menjadi sehat, mencegah kanker, dan mengendalikan diabetes

Singkong
Singkong rendah lemak dan 0 kolesterol, namun ia cukup tinggi kalori, bahkan hampir dua kali lipat kalori daripada kentang. Singkong juga bebas gluten dan mengandung banyak serat, sehingga baik untuk pencernaan dan menurunkan kadar kolesterol. Vitamin dan mineral yang terkandung dalam singkong juga bermacam-macam seperti vitamin K, vitamin B, vitamin C, Kalsium Fosfor, dan zat besi.

Garut
Garut mengandung protein relatif lebih banyak, daripada sumber makanan tropis lainnya seperti ubi , kentang , singkong, pisang , dll. Garut memiliki Indeks Glikemik (IG) yang rendah, sebesar 14 lebih rendah disbanding beras yang ber IG 96 sehingga baik bagi penderita diabetes. Selain itu Garut dapat berperan sebagai prebiotic yang dapat menyehatkan pencernaan.

-ismus-

Sumber: USDA
Gambar: www.bkpd.jabarprov.go.id

(n)asi




||Mendukung Sumber Pangan Non Beras||Salah satu kebutuhan dasar utama yang harus dipenuhi untuk hidup adalah pangan. Dar...
29/04/2016

||Mendukung Sumber Pangan Non Beras||

Salah satu kebutuhan dasar utama yang harus dipenuhi untuk hidup adalah pangan. Dari segi potensi ketersediaan, seharusnya Indonesia patut berbangga karena negara ini diberkahi dengan sumber daya pangan yang seakan tidak terbatas.

Namun sayangnya, saat ini, dari begitu banyaknya sumber daya pangan yang dimiliki oleh Indonesia, masyarakat masih sangat tergantung pada beras sebagai pangan utama. Padahal, menurut Murdjiati Gardjito dari Pusat Kajian Pangan Tradisional Universitas Gajah Mada (UGM), jika melihat kembali pada masa lampau sebelum p**au-p**au utama Indonesia terhubung secara baik, pangan masyarakat di beberapa kawasan di Indonesia bukanlah beras.

Seperti sumber pangan utama di Maluku dan Papua yang mengonsumsi Sagu, jagung di Nusa Tenggara Timur dan Madura, ubi jalar di sebagian kawasan Papua, dan sorgum yang menjadi pangan utama di beberapa tempat di Nusa Tenggara Timur. Kemudahan perhubungan antar p**au memicu perubahan kekhasan daerah terhadap sumber pangan non beras ke arah beras. Dari segi rasa, beras lebih mudah diterima oleh pemakan non beras.

“Di sini kita harus bisa melihat bahwa beberapa ancaman masa depan yang memengaruhi ketersediaan pangan khususnya beras di Indonesia merupakan hal yang nyata yang bisa terjadi kapanpun,” ujarnya pada keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Jakarta, Senin (08/06/2015).

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan penduduk yang besar, perubahan iklim, dan kondisi geografis yang ekosistemnya tidak selalu sesuai untuk budidaya padi akan menimbulkan kerentanan di masa yang akan datang. Sedikit saja terjadi gagal panen padi, maka ketersediaan pasokan akan terganggu dan kekurangan pangan dapat berujung pada bahaya kelaparan akan muncul di depan mata.

Menurut laporan Bappenas tahun 2013, terangnya, jumlah penduduk Indonesia akan meningkat dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Melihat proyeksi tersebut, maka sudah seharusnya pemerintah mulai melakukan rencana jangka panjang yang strategis untuk mendorong masyarakat menghidupkan kembali sumber pangan asli non beras yang secara alami tumbuh di wilayahnya.

Kembalinya pola makan masyarakat pada sumber pangan alami ini, ia melanjutkan, akan mendukung terjadinya ketahanan pangan sekaligus kedaulatan pangan di masa yang akan datang. Selain itu juga dapat menekan transportasi pangan untuk mengurangi emisi karbon. Kearifan lokal ini seharusnya menjadi dasar dari strategi makro ketahanan pangan Indonesia.

“Yang menjadi masalah adalah, selama ini Badan Pusat Statistik hampir tidak pernah membuat data tentang sumber pangan non beras. Data-data terkait besaran produksi atau konsumsinya sangat sulit di temukan.u Karenanya upaya untuk menggali potensi dari sumber pangan non beras masih sulit berkembang,” tambahnya lagi.
:
Senada dengan Murdjiati , Koordinator Nasional Aliansi Desa Sejahtera, Tejo Wahyu Jatmiko juga mengamini bahwa ada banyak sumber pangan yang sebenarnya bisa dikonsumsi oleh masyarakat selain beras. Menurut Tejo, Indonesia memiliki lebih dari 77 sumber karbohidrat yang baik dan mampu menggantikan beras.

“Kenapa harus beras kalau sumber karbohidrat lainnya masih banyak untuk dikonsumsi?” tukasnya.

Sebagai informasi, jika ditilik dari data dari Kementerian Pertanian, pada tahun 1954 silam, pola makan masyarakat Indonesia masih bisa dikatakan bervariasi. Kala itu, beras sudah menguasai separuh sumber bahan makanan pokok. Namun, ubi kayu dan jagung masih bisa bersaing.

Pergeseran pola makanan masyarakat Indonesia yang menjurus hanya pada beras mulai terjadi pada tahun 1984 yang saat itu sudah mencapai lebih dari 80 persen. Dan pada tahun 2010, sumber pangan non beras bisa dikatakan mulai menghilang. Masyarakat Indonesia sangat tergantung pada beras yang ketersediaannya terjaga karena ditunjang oleh impor beras yang semakin tinggi.

Penulis: Danny Kosasih

Udah pada belum???

sumber: Greeners(dot)co





|| Diversifikasi Konsumsi Pangan Untuk Penguatan Kemandirian Beras Lokal ||Kebutuhan akan pangan merupakan hak azasi man...
27/04/2016

|| Diversifikasi Konsumsi Pangan Untuk Penguatan Kemandirian Beras Lokal ||

Kebutuhan akan pangan merupakan hak azasi manusia, seperti yang tertuang dalam Universal Declaration of Human Right. Pada KTT Pangan di Roma tahun 1996, pemimpin negara di seluruh dunia menyatakan komitmennya untuk mencapai ketahanan pangan dan mengurangi kelaparan di dunia dari 800 juta jiwa pada 1996 menjadi 400 juta jiwa pada 2015. Di Indonesia, upaya membangun diversifikasi pangan telah dilaksanakan sejak tahun 1960-an.

Lalu di akhir Pelita 1 (1974) pemerintah secara tidak langsung mencanangkan kebijaksanaan diversifikasi pangan melalui Inpres No.14 tahun 1974 tentang Usaha Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR) dan disempurnakan melalui Inpres No.20 tahun 1979.

Diversifikasi konsumsi pangan merupakan kegiatan mengkonsumsi pangan (terutama pangan pokok) melalui bermacam-macam jenis pangan sehingga tidak tergantung terhadap satu jenis pangan saja. Di Indonesia yang notabene sebagian penduduknya mengkonsumsi beras, beras merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ketersediaannya.

Bahkan masyarakat yang dahulunya mengkonsumsi sagu dan jagung, sudah banyak yang beralih ke beras karena alasan kemudahan akses mendapatkannya entah dari segi umur tanamannya atau proses pengolahannya.

Dari detikfinance.com, pada tahun 2014 Indonesia hanya impor 300.000 ton beras medium untuk memperkuat stoknya, sedangkan tahun 2015 dibutuhkan impor 1,5 juta ton beras medium. Kegiatan impor beras semakin meningkat seperti dikutip dari liputan6.com tanggal 26 Januari 2016, Indonesia berada di posisi ke-4 negara pengimpor beras terbesar di dunia.

Posisi pertama diduduki oleh China dengan volume impor 4,7 juta ton, lalu Nigeria, Filiphina, lalu Indonesia dengan volume impor 1,6 juta ton beras.

Hal ini merupakan suatu hal yang sangat kritis mengingat Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Dengan keadaan yang seperti ini sudah sewajarnya kita yang telah tahu smasalah ini untuk mencari solusi dari hal-hal kecil yang kita bisa.

Diversifikasi konsumsi pangan melalui beragam sumber karbohidrat dapat mengurangi konsumsi beras nasional. Cara ini dianggap efektif untuk mengurangi impor beras dan penguatan ketahanan pangan. Di indonesia sendiri terdapat banyak sekali jenis umbi-umbian dan serealia sumber karbohidrat pengganti nasi, seperti singkong, ubi jalar, sagu, jagung, porang, gembili, garut, ganyong, dan masih banyak lagi yang nilai gizinya tidak kalah, bahkan memiliki kelebihan dibanding beras.

Dari kebiasaan kita mengkonsumsi pangan lokal selain beras, ada beberapa manfaat yang bisa kita capai, yaitu:

1. Mengurangi Ketergantungan Impor Beras
Jika seorang sekali makan nasi mengkonsumsi 0,5 ons beras lalu setiap hari mengganti satu porsi makannya dengan makan nonberas, maka dalam setahun seorang dapat mengurangi sekitar 17,8 kg konsumsi beras per tahun. Itu baru seorang, jika kita melakukannya secara berjamaah, hal ini akan sangat berdampak positif bagi kemandirian beras asal Indonesia.

2. Kearifan lokal
Hal ini merujuk pada kebijakan masyarakat mengenai potensi lokal yang dimilikinya. Bahwa Indonesia yang mampu memproduksi beras lokaly untuk kebutuhan pangannya mampu membuat kebijakan atas potensinya.

3. Melengkapi kebutuhan gizi.
Kebutuhan gizi tubuh tidak dapat terpenuhi hanya dari satu pangan saja melainkan perlu keberagaman sumber pangan. Misalkan saja beras tidak mengandung vitamin A seperti yang terdapat pada jagung, atau tidak mengandung antioksidan seperti yang terdapat pada ubi ungu.

Setelah membaca artikel ini, tergugahkan hati teman-teman untuk memulai: diversifikasi konsumsi pangan dengan nonberas?

-Sevencany

(n)asi
-lokalisasipangan





Sumber:
Ariani, Mewa.____.Diversifikasi Konsumsi Pangan di Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan. Diakses dari http:/:/pse.litbang.pertanian.go.id pada 23 April 2016
Muliana, Vina. 2016. Negara Pengimpor Beras Terbesar di Dunia, Indonesia Nomor Berapa? Diakses dari http://bisnis.liputan6.com pada 21 April 2016.
Agustinus, Michael. 2016. Impor Beras, Jagung, dan Kedelai Naik di 2015. Diakses dari http://finance.detik.com pada 21 April 2016

sumber gambar: kedaulatanpangan.net

[Balitbang Pertanian Kembangkan Komoditi lain Untuk Hindari Ketergantungan Beras]Buku dengan judul ‘Pembangunan Pertania...
27/04/2016

[Balitbang Pertanian Kembangkan Komoditi lain Untuk Hindari Ketergantungan Beras]

Buku dengan judul ‘Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion’ dan ‘Memperkuat Kemampuan Swasembada Pangan’ yang baru saja diluncurkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian guna merealisasikan ketahanan pangan yang tak hanya terfokus pada beras.

Indonesia jangan lagi hanya berbasis pada sumber daya yang dimiliki, sehingga perlu mempertimbangkan ragam ekosistem, ekologi. Sehingga, Indonesia tidak semata-mata bersandar kepada beras saja seperti yang dikatakan oleh Kepala Badan Peneltian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Muhammmad Syakir di Kementerian Pertanian, Jakarta, seperti yang dikutip dalam laman infopublik.id, Kamis (20/4).

Tetapi masyarakat sudah mulai diperkenalkan makanan pokok lainnya yang memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan komoditas lainnya yakni ketela, jagung, kentang, singkong, kembili dan komoditas sayuran.

Syakir mengatakan, sudah saatnya, Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya, tidak lagi hanya bertumpu kepada beras untuk kedaulatan pangan. Bisa dibayangkan apabila El Nino menyerang ataupun serangan hama datang, maka dampaknya kepada anjloknya produksi beras nasional, yang memicu kelangkaan beras.

Untuk menjaga ketahanan pangan pada generasi yang akan datang, maka badan litbang ini berusaha untuk menyeimbangkan pemikiran supaya Indonesia mulai mengalihkan kepada komoditas lainnya yang sama kandungannya dengan beras.

Lahan kering yang tersedia menjadi salah satu potensi yang perlu dipetakan segera mengingat adanya peluang-peluang yang muncul dalam pengembangan teknologi. Terlebih lahan persawahan menyempit tergerus program pembangunan.
Untuk menunjang kemandirian pangan dalam jangka panjang, kebijakan investasi tidak perlu hanya dibatasi pada sistem sawah beririgasi, tetapi diarahkan untuk memanfaatkan semua potensi yang tersedia.

Dalam mengupayakan pencapaian swasembada pangan, ada banyak tantangan yang semakin berat karena semakin terbatasnya sumber daya pertanian. Sementara itu, risiko produksi pertanian juga semakin besar sejalan dengan meningkatnya keragamanan perubahan iklim global yang menyebabkan terjadinya banjir, kekeringan, maupun peningkatan serangan organisma pembasmi tanaman.

Balitbang Pertanian Kementan bertekad membangkitkan kembali produk-produk pangan yang lain, seperti jagung, umbi-umbian, tidak hanya beras, tapi juga produk pangan yang memiliki produktivitas yang cukup baik. Hal ini dilakukan untuk menjaga kedaulatan pangan yang kian rapuh dan rentan oleh fluktuasi harga pangan dunia serta perubahan iklim ekstrem yang sulit diantisipasi.

Harapan ke depannya, pemerintah berupaya mengggali berbagai pemikiran kritis terhadap masalah pembangunan pertanian terutama pangan dan merumuskan langkah-langkah bagi pencapaian swasembada pangan, sehingga tidak perlu lagi impor komoditas beras, atau lainnya, melainkan komsumsi atau kebutuhan akan bahan pangan dapat dipenuhi sendiri.

Sumber: beritadaerah(dot)co.id



-lokalisasipangan

|| “Sisi lain” Nasi ||Diabetes, itulah salah satu jenis penyakit yang kini marak menjangkiti masyarakat kita. Banyak med...
27/04/2016

|| “Sisi lain” Nasi ||

Diabetes, itulah salah satu jenis penyakit yang kini marak menjangkiti masyarakat kita. Banyak media yang menulis tentang betapa bahayanya penyakit ini. Menurut data Balitbangkes tahun 2014 , diabetes menduduki peringkat ke 3 sebagai penyakit yang paling mematikan di indonesia sekarang ini, setelah stroke dan penyakit jantung.

Dengan jumlah penderita mencapai 9 juta orang. Data ini sangat mencengangkan,karena di tahun 90-an bahkan penyakit ini tidak masuk kedalam 10 besar jenis penyakit paling mematikan di indonesia. Lalu pertanyaanya adalah apa yang menjadi penyebab dari penyakit ini? lalu apa hubungannya dengan nasi? hehe

Banyak faktor yang kemudian bisa memicu penyakit diabetes ini, beberapa diantaranya adalah genetis, terlalu banyak mengkonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi, kurang melakukan gerak, merokok, mengkonsumsi alkohol,stress dll. Yang menarik dari sekian banyak pemicu diabetes adalah faktor makanan. Lha kok begitu?

Padahal makanan merupakan hal yang pasti dibutuhkan oleh setiap mahluk hidup, dan tidak akan lepas selama dia masih menyandang status kehidupannya. Lalu makanan seperti apa yang bisa memicu penyakit diabetes ini? Seringkali kita dengar bahwa penderita diabetes lebih baik mengkonsumsi makanan ber-indeks glikemik rendah dan menghindari makanan berindeks glikemik tinggi.

Kenapa begitu? Jadi penjelasannya seperti ini, Indeks glikemik merupakan ukuran yang menunjukkan efek karbohidrat yang kita makan terhadap kadar gula kita. Semakin rendah indeks glikemik suatu makanan maka semakin rendah p**a efek makanan tersebut terhadap kenaikan kadar gula darah kita. Sedangkan kita tahu bahwa diabetes merupakan penyakit gangguan insulin yang bertugas untuk memetabolisme gula darah, sehingga gula darah seseorang tetap normal.

Jadi bagi orang-orang dengan diabetes makanan berindeks glikemik tinggi dapat langsung memicu kenaikan gula darah karena gangguan insulin yang mereka derita. sudah dapat kaitannya kan? Hehe
Berbicara tentang makanan ber-IG tinggi, salah satu contoh yang bisa kita ambil adalah nasi atau beras.

Nasi yang menjadi makanan pokok kita ternyata tergolong sebagai jenis makanan dengan indeks glikemik tinggi, yaitu sekitar 86. Artinya konsumsi nasi akan sangat cepat menaikkan gula darah kita, dan ini berbahaya bagi penderita diabetes dan kita sendiri jika konsumsinya berlebihan ditambah lagi aktivitas fisik kita yang sedikit. Sekali lagi jika berlebihan.

So, hati-hati ya gaes! Hehe. Nah gimana d**g masak kita enggak boleh makan nasi? Hehe . Tenang dulu kisanak, enggak usah terlalu “saklek” gitu. Makan nasi tetap bagus asal jangan berlebihan, nah lebih bagus lagi jika kita mengganti sebagian asupan karbohidrat dengan makanan berkarbohidrat lain seperti ubi atau beras merah,yang indeks glikemiknya rendah. Itung-itung mendukung upaya diversifikasi pangan kita. hehe

Kira-kira seperti itulah sisi lain dari nasi yang kita konsumsi, selain banyak manfaatnya ternyata juga ada “sisi lain” yang harus kita tahu juga.

Karena dengan kita tahu, maka kita akan lebih bisa memilih yang pas untuk kita. Tidak melulu soal jodoh, tetapi soal pangan juga~

J.B

(n)asi
-lokalisasipangan



[Ini dia Bahaya Beras Putih yang Perlu Kamu Tahu]Tahukah kamu bahwa bahaya beras putih yang biasa di makan oleh kebanyak...
27/04/2016

[Ini dia Bahaya Beras Putih yang Perlu Kamu Tahu]

Tahukah kamu bahwa bahaya beras putih yang biasa di makan oleh kebanyakan masyarakat kita..?

Siapa sih yang tidak pernah makan beras putih atau nasi putih, tapi tahukah kamu bahwa di dalam
beras putih atau nasi putih itu mengandung bahaya yang besar untuk kita.

Nasi adalah makanan pokok
utama orang Indonesia, dari anak kecil sampai dewasa memakan nasi sebagai makanan utamanya. Pada setiap Negara memiliki perbedaan tradisi dalam pola makan dan makanan utama (pokok), ada yang makanan utamanya itu berasal dari ubi-ubian, padi, jagung, sagu, gandung dan lain-lain.

Indonesia terkenal dengan makanan pokoknya yaitu nasi yang berasal dari padi dan beras. Siapa yang
tidak kenal dengan beras putih atau nasi putih, bagi masyarakat Indonesia nasi putih adalah makanan pokok sehari-hari yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari.

Entah berapa karung beras untuk
mencukupi kebutuhan warga Indonesia yang saat ini memiliki 241 juta jiwa penduduknya. Nasi memang sumber karbohidrat namun sebenarnya banyak sumber karbohidrat yang lebih baik untuk pengganti nasi saat ini. Biasanya di lingkungan kita ada yang beranggapan jika belum makan nasi ada anggapan bahwa dia belumlah makan. Bisa seperti itu ya..?

Tapi tahukah kamu bahwa beras putih menjadi makanan utama penyebab penyakit diabetes (kencing manis) salah satu gejala penyakit yang mematikan di dunia. Saat ini Indonesia menjadi Negara no 4 tertinggi penderita diabetes seluruh dunia.

Diabetes sendiri divonis sebagai dalang dari berbagai komplikasi penyakit mematikan yang lain seperti gagal ginjal, kemandulan, serangan jantung, katarak dan yang lainnya. Mengapa nasi putih bahaya bagi tubuh dan di tuding sebagai penyebab utama diabetes? Hal ini disebabkan perkembangan diabetes terkait dengan konsumsi makanan yang
memiliki indeks glikemik tinggi. Indeks Glikemik (GI) merupakan skala angka yang digunakan untuk menunjukkan seberapa cepat dan seberapa tinggi suatu makanan tertentu dapat meningkatkan kadar glukosa darah.

Nasi putih sendiri memiliki nilai GI sebesar 70 – 87. Angka GI tersebut tergolong tinggi sehingga tidak cocok untuk penderita diabetes. Sehingga nasi putih dapat diganti dengan beras merah yang lebih menyehatkan. Proses penggilingan beras menjadi putih yang telah menyebabkan kerusakan 80% vitamin dalam beras. Proses penggilingan dan pemutihan serta penambahan zat pengawet yang
menjadikan beras menjadi putih telah merusak 67 % vitamin B3, 80% vitamin B1, 90% vitamin B6, 50% mangaan dan fosfor, 60% besi, serta semua serat dan asam lemak esensial.

Penelitian tentang bahaya beras putih
Hasil penelitian Amerika Serikat menyatakan konsumsi 150 gram beras putih lebih dari lima kali
dalam sepekan dapat meningkatkan resiko sebanyak 17%. Persentase ini dibandingkan dengan orang-orang
yang hanya mengonsumsi satu porsi nasi putih dalam sebulan.

Kesehatan tubuh seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola makan, jadwa istirahat, aktivitas pekerjaan, olahraga, tingkat stress dan lain-lain.

Dari seluruh faktor yang mempengaruhi
kesehatan tersebut, ternyata pola makan memegang peranan penting. Pola makan yang baik akan menghasilkan yang baik p**a sedangkan pola makan yang buruk akan menghasilkan buruk juga untuk
tubuh.

Oleh karena itu sayangilah tubuh kita mengingat bahaya dari beras putih dengan mengganti beras putih kita dengan beras yang sedikit penggilingan yaitu beras merah agar tubuh kita selalu sehat dan
terhindar dari segala penyakit. Dan aturlah pola makan sehat serta olahraga yang teratur.

Udah pada belum?

www.polisehat(dot)com



-lokalisasipangan

[Indonesia Pernah Swasembada Beras]Pada masa orde baru, sektor pertanian sangat diperhatikan karena pada saat itu pemeri...
27/04/2016

[Indonesia Pernah Swasembada Beras]

Pada masa orde baru, sektor pertanian sangat diperhatikan karena pada saat itu pemerintah menganggap bahwa sektor pertanian adalah sektor yang amat penting dalam kemajuan pembangunan Indonesia.

Pemerintah menyadari bahwa sektor pertanian harus dibangun lebih dahulu dibanding sektor lainnya. Sektor ini harus ditingkatkan produktivitasnya. Bertumpu pada sektor pertanian yang makin tangguh itulah, kemudian dibangun sektor-sektor lainnya. Pemerintah membangun berbagai prasarana pertanian, seperti irigasi dan perhubungan, cara-cara bertani dan teknologi pertanian yang baru diajarkan dan disebarluaskan kepada para petani melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan, penyediaan pupuk dengan membangun pabrik-pabrik pupuk.

Kebutuhan pembiayaan para petani disediakan melalui kredit perbankan. Pemasaran hasil-hasil produksi mereka diberikan kepastian melalui kebijakan harga dasar dan kebijakan stok beras oleh pemerintah (Badan Urusan Logistik atau Bulog).

Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian tadi telah berhasil mengantarkan bangsa Indonesia berswasembada beras, menyebarkan pembangunan secara luas kepada rakyat, dan mengurangi kemiskinan di Indonesia.

Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Dalam tahun 1968 produksi padi mencapai 17.156 ribu ton dan pada tahun 1992 naik menjadi 47.293 ribu ton yang berarti meningkat hampir tiga kalinya.

Perkembangan ini berarti bahwa dalam periode yang sama, produksi beras per jiwa meningkat dari 95,9 kg menjadi 154,0 kg per jiwa. Prestasi yang besar, khususnya di sektor pertanian, telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984.

Kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu, juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan.

Tapi itu semua masa lalu.

APAKAH SAAT INI INDONESIA MAMPU KEMBALI SWASEMBADA BERAS?

Yuk
Udah pada belum?



-lokalisasipangan

Address

Jalan C Simanjuntak, Gang Bolodewo, GK. 488V, Terban, Gondokusuman
Yogyakarta City
55223

Telephone

08562551690

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Food For Nation posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Restaurant

Send a message to Food For Nation:

Share