16/02/2014
Uang kertas Rp.1000 dan Rp.100.000 sama-
sama terbuat dari kertas, sama-sama di cetak
serta diedarkan oleh Bank Indonesia. Secara
kasat mata mereka memang tidak memiliki
perbedaan yang mencolok. Secara bersamaan
mereka dibuat, keluar dan beredar di tengah-
tengah masyarakat melalui Bank Indonesia.
Beberapa bulan kemudian, secara tidak
sengaja mereka bertemu di salah satu dompet
seorang anak muda. Kemudian, terjadilah
percakapan diantara mereka,
Rp.100.000 bertanya kepada Rp.1000.
“Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan
bau?!”.
Lalu di jawab oleh uang Rp.1000, “Karena,
setelah aku keluar dari Bank, aku langsung
berada di tangan orang-orang bawahan. Dari
tukang becak, tukang ojek, tukang parkir,
penjual sayur, penjual ikan, bahkan sampai di
tangan pengemis”.
Lalu uang Rp.1000 bertanya kembali kepada
Rp.100.000. “Kenapa kamu masih tampak
kelihatan seperti masih baru, rapi dan
bersih??”.
Di jawab oleh uang Rp.100.000. “Karena
begitu aku keluar dari bank , aku langsung di
sambut wanita-wanita cantik, dan aku beredar
di mall, restoran mahal, atau hotel
berbintang. Keberadaanku sangatlah di jaga
dan terkadang jarang keluar dari dalam
dompet”.
Lalu uang Rp.1000 bertanya lagi, “Pernahkah
kamu mampir di tempat ibadah?”.
“Belum pernah”, kata si Rp.100.000.
Lalu Rp.1000 pun berkata, “Ketahuilah,
meskipun keadaanku sekarang seperti ini,
namun setiap hari aku selalu mampir di
masjid-masjid, berada di tangan anak-anak
yatim. Bahkan aku selalu bersyukur kepada
Tuhan. Aku tidaklah di pandang sebagai nilai
oleh para manusia, namun aku di pandang
sebagai MANFAAT”.
Akhirnya,, menangislah Rp.100.000. Karena ia
tersadar telah merasa besar, hebat, tinggi,
tapi tidaklah begitu bermanfaat selama ini.