07/08/2012
Bagi para penganut ekonomi determinan, unsur ekonomi adalah peran utama dari gerak sejarah. Jadi sejarah tidak pernah menjauh dari kentalnya unsur ekonomi, berjalan saling mengikuti dan mengiringi. Nilai dan masalah sosial akan membentuk wajah ekonomi tersebut.
Priangan tahun 1830-1840an adalah sebuah daerah di ujung timur provinsi yang sekarang bernama Jawa Barat. Luasnya sekitar 21.524 km2 atau seperenam dari Pulau Jawa. Daerah ini menjadi sebuah Keresidenan semenjak pemerintahan Raffles (1811-1816), sedangkan Belanda menyebutnya sebagai regentschappen.
Keberadaan kopi sebagai komoditas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkebunan. Perkebunan memiliki arti penting dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia. Bahkan, sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor perkebunan.
Sejarah kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia merupakan sejarah perkebunan itu sendiri. Urgensi serupa juga berlaku di Priangan, terutama perkebunan komoditas kopi.
Dalam sejarah kolonial di Indonesia, perkebunan memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, perkebunan dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan ekonomi dunia, memberi keuntungan finansial yang besar, serta membuka kesempatan ekonomi baru.
Di sisi lain, perkebunan juga dianggap sebagai kendala bagi diversifikasi ekonomi masyarakat yang lebih luas, sumber penindasan, serta salah satu faktor penting yang menimbulkan kemiskinan struktural.
Priangan identik dengan kopi yang merupakan kesatuan historis yang sulit dipisahkan. Membahas Priangan sudah barang tentu membahas kopi di dalamnya. Arti penting kopi di Priangan didasari atas kenyataan bahwa tempat ini menjadi daerah eksploitasi kolonial melalui kopi selama hampir dua abad.
Selain itu, di Priangan inilah kali pertama tanaman kopi diperkenalkan dan diujicobakan sebelum kemudian dipraktikkan di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Praktik tersebut merupakan sebuah sistem penanaman yang di kemudian hari dikenal dengan Preangerstelsel selama kurun waktu tahun 1677 hingga 1870.
Dalam pelaksanaannya, penanaman kopi di Priangan melibatkan tenaga kerja dalam jumlah banyak sehingga produksinya menjadi yang terbesar di antara karesidenan lain di Pulau Jawa.
Indikasi pentingnya kopi Priangan makin kuat dengan memperhatikan statistik perdagangan VOC. Pada tahun 1726 VOC menguasai sekitar 50 hingga 75 persen perdagangan kopi dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.000.000 pon atau sekitar 75 persen kopi VOC berasal dari Priangan.
Jelas, jumlah tersebut memberikan keuntungan besar bagi VOC maupun pemerintah kolonial. Posisi Priangan baru tergeser oleh Pasuruan pada tahun 1860-an. Meskipun demikian, Priangan tetap menjadi benteng pertahanan sistem kopi.
Dari sanalah kopi Priangan yang kemudian dikenal di Eropa dan seantero dunia sebagai Java Coffee atau Java Preanger Coffee. Kopi Priangan banyak disukai karena punya rasa yang disebut mild oleh para penikmat kopi.
Namun pengiriman kopi priangan tersebut terhenti di tahun 1924. Gara-gara hama karat daun yang menyerang seluruh tanaman kopi di Priangan hingga musnah. Baru di tahun 1997, kopi kembali ditanam di Jawa Barat memakai benih kopi jenis arabica dari Aceh Tengah. Hingga dikenal sebagai kopi Ateng, kependekan dari Aceh Tengah.