03/12/2022
๐ฆ๐ผ๐๐ผ ๐๐ฎ๐บ๐ผ๐ป๐ด๐ฎ๐ป, ๐๐๐น๐ถ๐ป๐ฒ๐ฟ ๐๐ฎ๐๐ถ๐น ๐๐ฎ๐๐ถ๐ป ๐ฆ๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐๐๐ฎ๐บ, ๐ง๐ฒ๐น๐๐ฟ, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ
Mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Dalam pekat dan gurihnya kaldu Soto Lamongan, keduanya melesap mesra di mangkuk yang sama. Tiada saling mendahului.
Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem lan rahardjo. Begitu orang-orang Majapahit kala itu menyebut alam Nusantara yang mendeskripsikan betapa subur bentang daratan negeri yang sangat kita cintai.
Apapun tanaman yang dihempaskan di Bumi Pertiwi akan selalu tumbuh subur, baik itu berupa bahan makanan pokok, tanaman jamu dan obat, buah-buahan, kayu-kayuan, maupun rempah-rempah.
Saat itu kekayaan alam Nusantara dapat menjamin kebutuhan makanan seluruh penghuninya. Namun, kekayaan alam itu p**a yang akhirnya menyeret Indonesia ke dalam jurang kolonialisme.
Era kelam tersebut berawal dari ambisi untuk menguasai perdagangan rempah-rempah Indonesia yang melimpah oleh orang-orang Eropa. Monopoli itu yang lantas menjadi pemicu atas dimulainya penjajahan dan kependudukan daerah-daerah penghasil rempah-rempah yang kala itu harganya nyaris setara emas.
Terlepas dari jejak kelam kolonialisme, sebagai warga negara Indonesia kita patut bangga karena atas jasa rempah-rempah negeri kita dikenal dunia.
Kedatangan negara-negara penjajah dan saudagar asing tak selamanya membawa pengaruh buruk. Asimilasi budaya telah melahirkan kudapan bercita rasa tinggi tanpa menihilkan identitas dan warisan budaya hasil karya nenek moyang kita.
Bermula dari racikan bumbu yang sarat akan rempah, banyak makanan autentik Indonesia yang tercipta. Adanya interaksi perdagangan dengan bangsa-bangsa lain melahirkan persilangan budaya kuliner yang semakin memperkaya mahakarya dan cita rasa kudapan khas Nusantara.
Ada banyak jenis kuliner Indonesia yang terkenal tidak hanya di kalangan dalam negeri, melainkan juga di mancanegara. Salah satunya adalah olahan soto, yang disebut mirip sup oleh orang Barat.
Soto merupakan salah satu jenis kuliner populer Nusantara yang memiliki banyak varian di masing-masing daerah. Di balik kaldunya yang pekat nan gurih, ternyata Soto bukan kudapan asli Indonesia.
Sebuah riset berjudul "Menyantap Soto Melacak Jao To Merekonstruksi (Ulang) Jejak Hibriditas Budaya Kuliner Cina dan Jawa" terbitan tahun 2013, menemukan bahwa soto sejatinya berasal dari Negeri Tirai Bambu.
Terminologi "soto" merujuk pada salah satu ragam kuliner Tiongkok yang dalam dialek Hokkian disebut cau do, jao to, atau chau tu, artinya kudapan jeroan dengan rempah-rempah.
Di Indonesia, soto pertama kali dideteksi di pesisir pantai utara Jawa pada abad ke-19. Olahan itu memiliki ciri khas adanya kuah dengan potongan beraneka ragam daging atau jeroan.
Selain itu, jejak asimilasinya juga dapat diidentifikasi melalui adanya mi ataupun bihun, taburan bawang putih goreng, dan penyajian memakai sendok bebek serta mangkuk yang lazimnya dipakai sebagai bahan dan alat makan sup di Cina.
Asumsi itu lantas diperkuat oleh Denys Lombard dalam bukunya yang bertajuk "Nusa Jawa II: Silang Budaya Jaringan Asia, 1996". Menurut catatan Lombard, imigran dari Cina sudah banyak terlibat dalam kegiatan produksi di pesisir p**au Jawa sejak abad ke-18, yang mana salah satunya dengan membuka rumah makan.
Berdasarkan catatan kolonial, peradaban pesisir utara Pulau Jawa menjadi melting-pot (asimilasi) sejumlah etnis yang hidup di dalam arus perdagangan seperti Cina, Arab, India, Eropa, dan Jawa.
Mulai dari Kudus menuju barat hingga ke Semarang, Pemalang, dan seterusnya ke arah timur hingga ke Lamongan, Madura, dan Surabaya, soto menemani lidah para pelancong dan pedagang yang sekedar lewat atau menetap di sepanjang pesisir.
Selain mendirikan rumah makan, warga keturunan Cina juga tidak jarang yang berdagang secara keliling menggunakan gerobak atau pikulan.
Cara itulah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Jawa dalam menjajakan soto dengan memakai gerobak atau pikulan yang dipakai hingga hari ini. Saat itu soto disajikan dengan menggunakan mangkuk keramik dan sendok sup (sendok bebek).
Awalnyaโsesuai penyajian di Cinaโsoto selalu memakai daging babi. Namun, oleh karena masyarakat Nusantara ketika itu sudah banyak yang memeluk Islam, maka warga peranakan Cina pun mengakalinya dengan menggunakan daging ayam, sapi, kerbau, atau jeroan.
Sejak saat itu soto mulai digemari lantas menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Dengan pengaruh ragam budaya kuliner Indonesia dan keanekaragaman rempah-rempah, soto memiliki ciri khas masing-masing di setiap daerah.
Kalau dibandingkan dengan rasa nenek moyangnya (Jao To) tentu akan berbeda sebab soto Nusantara telah mengalami modifikasi baik dari segi racikan bumbu maupun selera lidah orang Indonesia.
Ragam olahan soto bisa kita temukan di beberapa daerah di Provinsi Jawa Timur, taruhlah Lamongan. Kabupaten mungil yang terletak 2 jam perjalanan dari Kota Surabaya itu memiliki varian soto khas yang bernama Soto Lamongan.
Pemakaian Ayam Kampung yang disuwir tipis-tipis, taburan koya, dan telur rebus adalah ciri khas utamanya. Penambahan tetelan (tulang ayam) dan ceker semakin menambah kelezatan santapan berkuah kuning yang kaya akan rempah tersebut.
Selain dimakan dengan nasi, ketupat atau lontong juga dapat dimanfaatkan sebagai pendamping Soto Lamongan disesuaikan dengan selera lidah kita.
Lazimnya varian soto itu dijajakan lewat sistem kaki lima tepi jalan atau emperan. Ciri khasnya dapat dilihat dari spanduk yang dipajang di depan lapak. Di lembar kain itu terdapat menu yang disediakan. Justru di lapak-lapak sederhana itu Soto Lamongan yang paling nikmat dijajakan.
Selain di kaki lima, kini tidak jarang p**a varian soto tersebut dijumpai di restoran. Soto Lamongan juga mudah dijumpai di seluruh penjuru Indonesia.
Banderolnya pun tak membuat kantong bolong. Kita dapat menikmati kelezatan Soto Lamongan dengan merogoh kocek di kisaran Rp10 ribu hingga Rp25 ribu.
Saking populer dan melegendanya dalam hal rasa, sampai-sampai Soto Lamongan juga diabadikan lewat sebuah varian rasa mi instan produk dalam negeri. Bahkan, nama daerah asalnya pun dijuluki Kota Soto (Lamongan).
Soto Lamongan adalah cara yang paling elegan serta sehat untuk mengonsumsi ayam dan telur dalam satu olahan yang lezat. Keduanya melesap mesra di dalam mangkuk yang sama. Tunggu apa lagi?
Kuliner Nusantara bukan hanya sekedar pemuas lidah dan pengenyang perut saja, melainkan juga sebuah kebanggaan pada hasil warisan budaya. Menjadi perlu bagi kita untuk melestarikannya.
Food is not rational. Food is culture, habit, craving and identity. โ Jonathan Safran
Sumber Artikel: https://s.id/1qXvB
Cari Soto? Yuk pesan melalui klik link https://s.id/pesansoto
Ingat Soto Lamongan, Ingat Soto Ayam Megilan,
Pilihan Rasa Semua Kalangan!