Resep inspirasi bunda

Resep inspirasi bunda adalah aneka ragam resep masakan populer dunia,yg di padukan oleh chef papan atas👨‍🍳👩‍🍳🧑‍🍳

KK SAHABATKU (BAG.202)" Hari Pernikahan "Seluruh keluarga sudahberkumpul di ballroom sebuahHotel bintang lima. Acara aka...
09/07/2025

KK SAHABATKU (BAG.202)
" Hari Pernikahan "

Seluruh keluarga sudah
berkumpul di ballroom sebuah
Hotel bintang lima. Acara akad
nikah antara Riana dengan
Wisnu akan dilaksanakan
sebentar lagi.
Wisnu sudah siap duduk
menghadap ke sebuah meja
yang ditata sangat cantik
dimana akad nikah akan
dilaksanakan disana.
..

Petugas KUA dan Ayah
Rendra juga sudah ada disana
termasuk dua orang saksi yaitu
Tama dan Surya, suami Ajeng.
Dua bumil duduk paling
depan bersama Bunda Nilam
dan Radit juga Raja dan Mama
Ajeng. Chelsy dan Arkan juga
duduk tidak jauh dari mereka.
Di barisan kursi kedua ada
Dirga dan Jeff bersama istri dan
anak-anak mereka. Dirga dan
Dena sengaja datang dari
Surabaya untuk menyaksikan
acara pernikahan adik sahabat
mereka itu.
Saat itu mereka hanya
tinggal menunggu kedatangan
mempelai wanita yang sedang
dijemput oleh dua orang petugas
WO ke kamar rias yang ada di
Hotel itu.
Wajah Wisnu terlihat
tertegun saat mnelihat Riana
datang dalam balutan kebaya
pengantin yang sangat cantik
yang selaras dengan setelan jas
yang Wisnu pakai.
Dua orang WO
membimbing Riana untuk
duduk di sebelah Wisnu karena
acara akad nikah sebentar lagi
akan dilaksanakan.
Acara dibuka dengan
pembacaan ayat suci Alquran
dan dilanjutkan dengan kata
sambutan dari kedua keluarga.
..

Karena hari itu jadwal
petugas KUA itu cukup padat
maka acara akad nikah pun
segera dilakukan.
Wisnu dibimbing untuk
melakukan latihan ijab kabul
bersama Ayah Rendra.
Meskipun ini adalah pernikahan
keduanya namun tetap saja
Wisnu terlihat sangat gugup.
Wisnu berusaha
mengendalikan rasa gugupnya
dengan menarik nafas
dalam-dalam saat ia akan
mengucapkan ijab kabul.
Wajah pria tampan itu
terlihat lega ketika terdengar
suara para saksi yang serempak
mengatakan kata "Sah" setelah
ia dan Ayah Rendra selesai
melakukan ijab kabul.
Wisnu tidak dapat
menyembunyikan rasa harunya
saat Rlana mengambil
tangannya dan menciumnya
dengan takjim sebagai bukti
bakti seorang istri kepada suami.
Bunda Nilam terlihat tidak
kuasa menahan tangis harunya
saat akhiranya ia harus
melepaskan putri bungsunya
untuk mengarungi biduk rumah
tangga bersama pria pilihan
hatinya.
Jemari lentik Alina
menggenggam tangan Bunda
Nilam walaupun ia juga tidak
kuasa menahan airmata nya.
"Papi, kenapa semua orang
menangis? Kakak malah senang
Aunty Riana menikah dengan
Om Dosen." tanya Raja sambil
berbisik kepada Radit yang
berhasil menyembunyikan rasa
harunya.
"Mereka semua menangis
karena bahagia, kak." jawab
Radit.
"Oh begitu." Raja pun
akhirnya mengerti.
Arkan memberikan
selembar tisu kepada Chelsy saat
melihat gadis remaja yang
duduk di sebelahnya itu terisak.
"Terimakasih." kata Chelsy
kemudian mengusap matanya
yang basah dengan tisu
pemberian Arkan.
..

Suasana semakin mengharu
biru saat memasuki acara
sungkeman. Hujan airmata
mewarnai acara sakral itu.
Serangkaian acara inti
berakhir beberapa jam
kemudian. Riana dan Wisnu
yang sudah berstatus sebagai
suami istri itupun beristirahat
di kamar pengantin mereka di
salah satu kamar terbaik di
Hotel itu.
Rencananya besok malam
akan diadakan acara resepsi
masih di tempat yang sama.
Wisnu dan Riana menolak
tawaran Radit untuk
mengadakan acara resepsi di
Bali, bahkan Tama juga
menawarkan pulau miliknya
namun Riana dan Wisnu
kompak menolaknya. Mereka
tidak mau capek dan tidak mau
ribet.
"Pengantin saya ternyata
cantik sekali.
mem # Riana begitu mereka
sampai di kamar pengantin.
Wisnu langsSUng
"Suamiku juga ganteng
banget" balas Riana sambil
mem # leher Wisnu dan
meng # b # dengan
lembut.
Wisnu semakin
mengeratkan pel #
hingga t # ramping dalam
bal # kebaya pengantin
itupun tenggelam dalam
pel # t # kekarnya.
..

Tok..tok
Suara ketukan di pintu
membuat Wisnu melepaskan
Riana, sepasang pengantin itu
saling bertatapan.
"Siapa yang ngetuk pintu?"
tanya Riana.
"Sebentar biar saya yang
buka." jawab Wisnu kemudian
beranjak menuju pintu dan
membukanya.
"Chelsy? " Wisnu melongo
menatap Chelsy yang tengah
berdiri di depan pintu seraya
tersenyum jahil kepadanya.
"Hai, Sayang..sini!" Riana
melambaikan tangannya kearah
Chelsy.
Chelsy langsung masuk dan
menghampiri Riana.
"Kebetulan kamu datang,
bisa bantu lepas sanggul kak
Riana tidak?" tanya Riana.
"Bisa doong." jawab Chelsy
sambil berdiri di belakang Riana
dan melepaskan sanggul Mama
tirinya itu.
,.

Wisnu menatap ngenes
pada miliknya yang mulai
men # setelah berc #
dengan Riana. Wisnu mnerasa
sedikit jengkel kepada Riana.
Kalau untuk mel # s #
Wisnu juga bisa, tidak usah
minta bantuan Chelsy segala.
Jangankan melepas sanggul,
melep # semua p #
Riana saja Wisnu sudah jago.
Wisnu alkhirnya duduk di
sebuah sofa dan menonton
Chelsy yang sedang melepas
sanggul Riana. Kedua wanita itu
asik dengan pekerjaannya dan
nyaris melup # keberadaan
Wisnu.
..

Setelah selesai melepaskan
sanggul dan hiasan di kepalanya
dengan bantuan Chelsy, Riana
pun pergi ke kamar mandi
untuk membersihkan t # dan
wajahnya dari sisa makeup.
Sambil menunggu Riana
mandi, Chelsy menghampiri
Papanya yang sedang duduk. Jas
pengantinnya sudah tersampir
di sandaran sofa.
..
"Akhirnya Papa berhasil
mewujudkan keinginan terakhir
Mama kamu untuk menjadikan
kak Riana sebagai ibu sambung
kamu." kata Wisnu sambil
mem # bahu Chelsy saat
putrinya itu duduk di
sebelahnya.
"Iya, Mama pasti senang di
alam sana karena keinginan
terakhir nya sudah terwujud."
kata Chelsy.
"Kak Riana sekarang sudah
resmi menjadi Mama kamu.
Papa minta kalian yang akur,
jika ada perbedaan pendapat
atau unek-unek sebaiknya
dibicarakan baik-baik dan Papa
minta mulai sekarang kamu
harus menurut kepada kak
Riana!" perintah Wisnu.
"Iya, Pah." Chelsy
mengangguk
"Papa bangga sama kamu
karena sekarang kamu sudah
bisa berpikir dewasa." Wisnu
memuji dan lagi-lagi Chelsy
mengangguk
"Sekarang ini kita juga
punya keluarga baru, kamu
punya Opa dan Oma juga kak
Alin dan Mas Radit yang harus
kamu hormati!" Wisnu
mengingatkan.
"Iya, aku juga punya
saudara yang ganteng dan imut.
si Raja" tambah Chelsy.
"Iya..mereka semua
sekarang adalah keluarga kita
dan wajib kamu hormati."
"Iya, Papah sayang." jawab
Chelsy.
Disaat Wisnu sedang
memberikan ceramah panjang
lebar kepada Chelsy, Riana
keluar dari kamar mandi dalam
balutan bathrobe berwarna
putih.
"Waduh Pak Dosen sedang
ngasih kuliah." Riana meledek
Wisnu sambil duduk di samping
kiri Wisnu sementara Chelsy
duduk di samping kanannya.
"Bukan kasih kuliah, tapi
hanya mengingatkan Chelsy
kalau keluarga kamu sekarang
sudah menjadi keluarga kita."
kata Wisnu sambil meme/ #
bahu Riana dengan tangan
kirinya sementara tangan
kanannya mem #*luk bahu
Chelsy.
Riana mengangguk.
"Saya juga minta kalian akur
dan tidak mau ada pertengkaran
seperti dulu." tambah Wisnu.
"Iya." jawab Riana dan
Chelsy kompak kemudian Riana
dan Chelsy serempak mem #
perut pria itu.
"Mulai sekarang jangan
panggil kak Riana lagi,
biasakanlah panggil Mama!"
perintah Wisnu.
"Iya, aku akan panggil
Mama." jawab Chelsy.
"Kalau melihat seperti ini
Papa jadi tenang." kata Wisnu
kemudian mem # erat kedua
wanitanya dengan kedua
tangannya.
..

Malam itu tidak ada malam
pertama bagi Riana dan Wisnu
karena Chelsy bersikeras ingin
tidur bersama Riana dan Wisnu.
Chelsy tidur di tengah,
gadis itu tampak tidur dengan
pulas dalam dekapan Papa dan
Mama barunya.
"Malam pertama kita malah
diganggu anak nakal ini." kata
Wisnu pelan setelah Chelsy
tidur pulas.
"Tidak apa-apa, toh kita
sudah biasa melakukannya.
Kamu kan sudah rajin nyicil."
kata Riana dan Wisnu pun
terkekeh.
"Tapi setelah resmi menjadi
suami istri pasti rasanya beda,
Ri." kata Wisnu.
"Kan bisa lain kali, yang
penting Chelsy senang dulu bisa
ganggu malam pertama kita."
kata Riana.
"Dia berhasil mengacaukan
malam pertama kita." kata
Wisnu.
Malam pertama sepasang
pengantin itu berlalu begitu saja
dan mereka memilih tidur
karena besok masih ada acara
resepsi yang pastinya akan
sangat melelahkan.
Acara resepsi pernikahan
Riana dengan Wisnu
berlangsung sangat meriah dan
mewah. Acara itu masih
bertempat di Hotel yang sama
dengan acara akad nikah yang
sudah dilangsungkan sehari
sebelumnya.
..

Di acara itu Riana
mengenakan gaun pengantin
yang sangat cantik berwarna
putih tulang. Wisnu
mengenakan setelan jas
berwarna senada dan mereka
terlihat sangat serasi.
Riana dan Wisnu tampak
menyapa para tamu yang
datang. Alina, Ajeng, Diana dan
Bunda Nilam duduk di sebuah
meja sambil menikmati
hidangan. Ayah Rendra, Tama,
Surya dan Radit terlihat ikut
sibuk menyapa para tamu yang
mereka kenal.
Raja terlihat sibuk
membuntuti Arkan sedangkan
Chelsy bergabung bersama Genk
nya yang malam itu menjadi
Bridesmaids.
Rindu yang duduk di dekat
Chelsy mencuri-curi pandang
kepada Arkan yang sibuk
menemani Raja. Rindu
akhirnya mencoba mendekati
Arkan dengsn menyapa Raja.
"Hai ganteng, siapa
namanya?" sapa Rindu sambil
menc # p # Raja membuat
bocah itu menoleh kearah
Rindu.
Raja terlihat tidak s**a saat
pipinya dicubit oleh Rindu.
Tidak bisakah jika menyapa
tanpa menc # ? Pertanyaan
Rindu itu Raja abaikan
membuat Arkan menjadi
merasa tidak enak kepada Rindu.
..

"Maaf ya, Raja memang
selalu begitu jika kepada orang
yang tidak dikenal." kata Arkan.
"Oh..jadi kep # kak
Arkan itu namanya Raja?" tanya
Rindu dan Arkan pun
mengangguk. "Nama yang
keren."
Meskipun Rindu memuji
tapi tidak membuat Raja senang
karena ia masih jengkel kepada
Rindu yang sudah menc #
pip tadi.
Rindu berusaha mendekati
Arkan dengan mengajak Raja
mencari makanan kes**aannya
tetapi Raja menolak. Raja malah
pergi menghampiri Radit yang
sedang mengobrol dengan
ketiga Opa nya.
Sepeninggal Raja, kini
Arkan dan Rindu hanya berdua
karena Chelsy dan kedua
temannya sedang berphoto
bersama Riana dan Wisnu.
"Kamu tidak ikut berphoto
dengan teman-teman kamu?"
tanya Arkan sambil menunjuk
kepada Chelsy dan kedua
temannya yang sedang berphoto
dengan pengantin.
"Sudah berphoto tadi."
jawab Rindu.
Di sebrang sana Chelsy
terlihat menatap kearah Arkan
dan begitupun dengan Arkan.
Chelsy buru-buru nmembuang
muka saat tatapan mereka tidak
sengaja bertemu.
...

Melihat Chelsy yang
membuang muka entah
mengapa Arkan merasa tidak
s**a. Arkan merasa lebih
nyaman berada di dekat Chelsy
daripada di dekat Rindu.
Radit dan Alina
memutuskan pulang lebih dulu
meskipun acara resepsi
pernikahan Riana dan Wisnu
belum berakhir. Masih ada
waktu selama satu jam lagi
untuk menikmati kemeriahan
pesta itu.
Alina mengaku lelah dan
wanita cantik itu mengajak
Radit pulang duluan. Namun
ketika sampai parkiran, Alina
tiba-tiba berhenti dan mengaku
jika dirinya mengompol.
"Sayang..apakah ini air
ketuban?" tanya Radit.
Radit sudah banyak
membaca mengenai
tanda-tanda wanita yang akan
melahirkan karena ia ingin
menjadi suami siaga.
"Sepertinya iya, Mas." jawab
Alina.
"Ya sudah kalau begitu kita
ke Rumah Sakit sekarang!" ajak
Radit dan Alina mengangguk.
Di jalan Radit mengabari
Tama dan Diana juga Ajeng dan
Surya. Ketika akan mengabari
Ayah dan Bundanya, Radit
merasa tidak enak karena takut
mengganggu acara pernikahan
adiknya.
Meskipun tidak mengabari
secara langsung tetapi Ayah
Rendra dan Bunda Nilam
akhirnya tahu jika Alina akan
melahirkan karena melihat
Tama dan Diana juga Ajeng dan
Surya pamit secara tiba-tiba.
Ayah Rendra dan Bunda
Nilam juga langsung menyusul
ke Rumah sakit dan menitipkan
Raja kepada Riana dan Wisnu.
Untunglah pengantin baru itu
tidak keberatan saat dititipi
Raja.
..

Raja sempat merengek
menanyakan Alina saat Riana
dan Wisnu membawanya ke
kamar mereka.
"Raja jangan rewel ya,
sebentar lagi adiknya Raja alkan
lahir." Wisnu membujuk Raja.
Raja mengangguk namun
dengan wajah yang muram.
Wisnu menggend**g Raja
untuk menenangkan sampai
akhirnya bocah tampan itu tidur
dalam pangkuan Wisnu.

Note:L.i..k..e..mu penyemangat Mimin ❤️ 💙 ❤️ ❤️ 💙

MENYAMBUT SUAMI YANG BARU PULANG BERLIBUR DENGAN WANITA SIMPANANNYA. PoV ReySinta benar-benar keterlaluan, membuat keput...
09/07/2025

MENYAMBUT SUAMI YANG BARU PULANG BERLIBUR DENGAN WANITA SIMPANANNYA.

PoV Rey

Sinta benar-benar keterlaluan, membuat keputusan tanpa persetujuan dariku. Setelah mengurus persalinan Sukma, aku kembali ke kantor dan terkejut mendapati ruang kerjaku telah ditempati Pak Suryo. Lebih parah lagi, saat pulang ke rumah, aku mendapati pakaian dan barang-barangku sudah diletakkan di luar.

Awalnya, aku sudah curiga. Kartu kreditku tidak bisa digunakan saat ingin melunasi tagihan persalinan Sukma. Sinta benar-benar serakah, melakukan semua yang ia mau tanpa memikirkan orang lain.

Aku tak menyangka Sinta sudah mengetahui semuanya. Aku menyesal belum mendapatkan apa pun dari warisan Pak Romi. Seharusnya, sebagai menantu, aku mendapat bagian. Namun, Sinta malah menggagalkan rencanaku saat ingin menjual mobil. Padahal, hanya mobil itu satu-satunya yang bisa kumiliki.

Dia berani merampas kunci dan surat-surat mobil dari tanganku, membuatku benar-benar malu. Ditambah lagi, kelicikannya merubah data rekeningku. Sungguh, Sinta adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih. Padahal, aku menikahinya meski tahu riwayat penyakitnya.

Sekarang, apa yang aku dapatkan? Aku bersumpah akan membalas semua perbuatan Sinta.

Ketika aku sedang kesal, ponselku berdering. Nama "Mami" muncul di layar. Aku baru ingat, hari ini adalah jadwal kontrol bulanan wanita tua penyakitan itu. Seperti biasa, aku yang selalu mengantarnya.

Ini kesempatan bagiku. Mami mengatakan bahwa Sinta sedang tidak ada di rumah. Tapi, dua sekuriti itu? Ah, nanti aku akan mencari cara untuk mengelabui mereka.

**

Akhirnya, aku berhasil masuk melalui pintu belakang. Namun, saat aku hampir masuk ke rumah, Wati memergokiku. Aku membungkam mulutnya dan mengancamnya agar tidak berkata apa-apa.

Aksiku berhasil. Sebelum itu, aku menyuruh Wati memasukkan obat tidur ke dalam kopi untuk dua sekuriti yang kebetulan sedang dibuatnya. Awalnya, Wati menolak dan malah berlari meninggalkanku.

Pembantu kurang ajar ini harus kutundukkan. Aku mengejarnya dan menekannya lebih keras, memaksanya mengikuti perintahku. Tapi lagi-lagi ia menolak, bahkan mengancam akan melaporkanku kepada Sinta.

Kesabaranku habis.

“Lakukan yang aku perintahkan, atau...,” aku berbisik di telinga Wati.

Tanpa kusadari, Wati melawan. Itu membuatku marah. Dengan refleks, aku membungkam mulutnya lagi dan melemparkannya ke ranjang. Diliputi amarah, aku menyetubuhinya. Aku tak tahu apa yang membuatku kehilangan kendali seperti ini. Tapi aku tidak s**a ditentang. Wati melawanku, dan itu membuatku semakin penasaran dengannya.

TERSEDIA DI KBM app

Judul: KAMU BUKAN LAWANKU MAS
Penulis; myra_rani

Bab 4-- “Dek, kita perlu bicara,” ucap Mas Dimas, menghadang langkahku ketika aku baru saja menutup pintu kamar anak-ana...
08/07/2025

Bab 4-- “Dek, kita perlu bicara,” ucap Mas Dimas, menghadang langkahku ketika aku baru saja menutup pintu kamar anak-anak.

“Sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas. Aku sudah berpamitan dengan anak-anak,” jawabku datar tanpa menoleh, tak peduli dengan raut wajah memelasnya.

Langkahku sempat terhenti saat melihat Sinta berdiri di sudut ruangan. Sama seperti Mas Dimas, dia juga menunjukkan ekspresi memohon. Kuamati sekeliling, hanya mereka berdua di ruangan ini.

“Aku titip Bagas sama Ibu, Mbak,” jelas Sinta, seolah tahu arah pandangku.

Ia segera menghampiri dan meraih tanganku. “Mbak, mari kita bicarakan baik-baik, ya,” ujarnya lembut.

“Iya, Dek. Semua ini bisa kita selesaikan dengan tenang, tanpa emosi,” timpal Mas Dimas, mencoba menenangkan, seakan hanya aku yang membawa keributan ke dalam rumah.

Aku menghela napas, lalu melirik ke arah meja makan. Mereka menangkap isyaratku dan segera mengikutiku duduk.

“Mbak Nuna mau minum apa? Biar aku yang buatkan,” tawar Sinta dengan senyum.

Keningku mengernyit. Tatapanku menyelidik, membuat senyum Sinta langsung memudar. Dia menunduk, menampilkan wajah menyesal.

“Oh, kamu sedang berlatih jadi nyonya rumah, ya?” kataku pelan, menyisipkan sindiran.

“Dek, kenapa bicaramu begitu? Maksud Sinta baik, kok,” bela Mas Dimas, menyentuh lenganku.

Refleks, aku menghindari sentuhannya. “Tak perlu basa-basi! Langsung saja sampaikan apa yang kalian inginkan. Aku tak ingin membuang waktu,” ucapku tegas.

Mereka saling pandang sejenak, lalu Mas Dimas mulai berbicara. Ia menggenggam jemariku erat, seolah takut aku akan pergi lagi.

“Dek, mungkin kamu salah paham soal sikap Ibu. Jangan buat keputusan terburu-buru, ya? Aku butuh kamu. Aku nggak mau kita berpisah,” ucapnya lirih.

“Iya, Mbak. Mas Dimas sungguh mencintai Mbak. Anak-anak juga butuh Mbak Nuna. Tolong jangan tinggalkan mereka,” tambah Sinta cepat, dengan suara sedikit bergetar.

Tatapannya seolah meminta belas kasih, tapi bagiku itu bukan kesedihan murni. Lebih seperti rasa takut kehilangan kenyamanan.

“Aku nggak pernah berharap ini terjadi, Mbak. Tapi Mbak tahu sendiri bagaimana sikap Ibu. Kami tak punya kuasa untuk menolaknya,” lanjutnya dengan suara pelan.

Aku terkekeh, lalu tersenyum miris. Sinta kembali menatapku dengan wajah tak berdaya.

“Dek, ini semua di luar kendali kami,” Mas Dimas menambahkan.

“Silakan saja kalian menikah. Bukankah di depan Ibu tadi, aku sudah bilang tidak keberatan?” ucapku ringan. “Apalagi melihat kalian begitu kompak. Wajar saja Bu Lastri berharap kalian bersatu,” lanjutku, tetap dengan nada sarkastik.

Mas Dimas memandangku terkejut. “Dek, kenapa kamu jadi begini?”

“Mbak, aku tidak pernah berniat menyakiti hati Mbak,” potong Sinta.

“Benarkah?” tanyaku, menatap tajam. “Kamu s**a, kan, diperlakukan istimewa oleh Bu Lastri? Dan juga oleh Mas Dimas? Perhatian yang seharusnya menjadi milik kami—aku dan anak-anakku.”

“Itu tidak benar, Mbak!”

Aku tersenyum tipis. “Kalau memang tidak benar, kamu pasti sadar sesuatu, Sinta. Kamu pasti tahu … waktu Mas Dimas di rumah semakin sedikit. Dan kalau pun pulang, waktunya bukan untuk kami lagi.”

“Tapi kamu menganggap semua itu biasa. Padahal, tanpa sadar, kamu telah mengambil waktu dan perhatian yang seharusnya menjadi hak anak-anakku.”

Aku menatap Mas Dimas. “Dan kamu, Mas! Kamu terlalu takut untuk bersuara. Seolah lupa bahwa aku dan anak-anakmu juga menanti kepulanganmu setiap hari.”

“Bahkan kamu mungkin tak menyangka dengan reaksi Bulan tadi, ‘kan? Itu gambaran isi hati anak-anakmu. Mereka merasa kehilangan … karena kamu tak pernah hadir.”

“Mas, kamu menyayangi anak yatim, tapi melupakan anak-anakmu sendiri. Mereka juga butuh kasih sayangmu.”

Air mataku jatuh. Wajah kecewa Bulan dan Bintang terbayang di benakku. Aku usap air mata itu cepat-cepat, tak ingin mereka salah mengartikan sebagai bentuk kelemahan.

Kutatap wajah Mas Dimas yang kini menunduk.

“Kalian akan menikah. Jadi, jalani saja kehidupan baru itu dengan baik. Tanpa aku.”

Nadaku sarkastik namun tenang. Keduanya diam terpaku.

“Bagas akan memanggilmu Papa dengan bangga. Sedangkan Bulan dan Bintang? Mereka akan punya ibu baru yang lembut dan penuh kasih … seperti kamu, Sinta. Bukankah itu sempurna?”

Sinta menahan napas, tak sanggup berkata-kata. Matanya berkaca-kaca, tapi tak ada bantahan. Mas Dimas pun hanya menangis.

“Aku cuma ingin titip satu hal.”

“Kumohon, jangan bedakan Bulan dan Bintang dengan Bagas. Jangan jadikan mereka seperti tamu di rumah sendiri. Dan jangan gunakan alasan ‘anak yatim’ untuk menutupi luka yang juga mereka rasakan.”

“Faktanya, mereka semua sedang kehilangan. Bagas kehilangan ayah, dan Bulan serta Bintang kehilangan ibunya.”

Kata-kataku bergetar. Kupaksa diriku tetap kuat.

“Kalau kalian memang ingin jadi keluarga yang saling melengkapi, lakukanlah tanpa mengesampingkan siapa pun. Jangan minta mereka untuk terus mengalah. Rangkul semuanya … bersama-sama.”

Keduanya terdiam. Air mata Mas Dimas mengalir, namun aku sudah tak lagi tergerak. Rasaku telah habis.

“Karena kalian tak menjawab, aku anggap kalian mengerti,” ucapku, lalu berdiri. “Aku akan pergi sebelum malam. Dan tolong, jangan persulit proses perceraian kita, Mas.”

“Dek … jangan bicara begitu!” suara Mas Dimas parau. “Aku butuh kamu. Anak-anak juga. Jangan pergi, kumohon!”

Ia menggenggam tanganku kuat, tubuhnya bergetar. Tapi aku hanya menatapnya dengan datar. Perasaanku telah tumpul.

Sinta berdiri membisu, wajahnya diliputi kecemasan. Aku tahu apa yang ada di pikirannya.

“Tenang saja. Posisiku akan segera tergantikan … oleh adik iparmu,” ucapku menatapnya.

“Kamu siap, kan, Sin? Menjadi istri yang baik dan ibu yang sempurna? Bukankah itu yang kamu harapkan sejak awal?”

Sinta membuka mulut, tapi tak ada kata keluar. Hanya tatapan kosong penuh rasa bersalah.

Aku sudah selesai menjadi perempuan yang mengalah.



Judul: Ibu Tiri Spek Bidadari
Penulis: Disi Halimah

Selengkapnya: KBM App

Cara buat CENDOL DAWET✨️✅️Bahan100 gram tepung beras4 sdm tepung tapioka500 ml air2 lembar daun pandanBahan Gula Cair200...
08/07/2025

Cara buat CENDOL DAWET✨️

✅️Bahan

100 gram tepung beras
4 sdm tepung tapioka
500 ml air
2 lembar daun pandan
Bahan Gula Cair
200 gram gula merah
500 ml air

✅️Bahan Santan

300 ml air
65 ml santan instan

✅️Cara Membuat

Masak tepung beras, tapioka, dan air pandan sampai matang dan meletup-letup.
Angkat dan dinginkan. Cetak dawet dengan saringan dan siapkan air es di bawahnya.
Masak gula merah dan air sampai mendidih. Masak santan dan juga air.
Campurkan gula, santan, dan dawet. Beri es batu agar segar. Sajikan.

KK SAHABATKU (bag.201)"Photo Prewedding "Jam sembilan malam Arkantiba di rumah orangtuanya diKuningan. Mama Ajengmengamb...
08/07/2025

KK SAHABATKU (bag.201)
"Photo Prewedding "

Jam sembilan malam Arkan
tiba di rumah orangtuanya di
Kuningan. Mama Ajeng
mengambil Raja yang baru saja
Chelsy gend**g dalam keadaan
tidur dari dalam mobil.
"Kalian ini kenapa ambil
perjalanan malam sih?" Mama
Ajeng sedikit mengomel.
"Nunggu Chelsy pulang
sekolah dulu, Mah." jawab
Arkan.
Setelah menidurkan Raja di
kamarnya, Mama Ajeng
menghampiri Arkan dan Chelsy
di ruang tengah yang sedang
mengobrol bersama suaminya.
"Oh jadi ini calon anaknya
Riana? Cantik banget." Mama
Ajeng memuji Chelsy.
"Tante ini bisa saja." Chelsy
tampak tersipu malu.
"Calon suami kak Riana itu
kebetulan Dosen aku di kampus,
Mah." tambah Arkan.
"Oh iya, Mama sudah tau
dari kak Alin." kata Mama Ajeng.
"Lebih baik ajak Arkan dan
Chelsy makan, Mah! Arkan
bilang mereka ga sempat makan
di jalan karena Raja tidur." Kata
Papa Arkan.
...
"Ya ampun..kalau begitu
Mama suruh si Bibik hangatkan
dulu makanannya. Mama pikir
kalian tidak jadi pulang hari ini."
Kata Mama Ajeng sambil
beranjak ke dapur untuk
menyuruh si Bibik
menghangatkan makanan.
Akhirnya merekapun
makan malam bersama
meskipun sudah terlambat.
Pada saat makan malam itu
Arkan memberikan kado
ulangtahun titipan dari Alina
dan Diana. Chelsy juga
memberikan kado yang sudah
Riana siapkan yang entah apa
isinya.
"Aduh kenapa kamu juga
ikutan repot kasih kado untuk
Tante sih?" kata Ajeng saat
Chelsy memberikan kado
kepadanya.
"Kak Riana yang siapkan,
aku juga sebenarnya tidak tahu
kalau Tante ulangtahun.
Habisnya kak Arkan tidak bilang.dia cuma ngajak aku ikut saja."
kata Chelsy jujur.
"Terimakasih banyak
kadonya." Kata Ajeng.
"Kalau tidak sedang hamil
besar kak Alin juga pasti datang
kesini." kata Arkan.
"Iya, Mama juga tidak akan
izinkan kak Alin kesini dalam
keadaan hamil besar begitu.'
kata Ajeng.
Chelsy merasa nyaman
berada diantara keluarga Arkan
yang hangat. Pantas saja Arkan
dan kakak tirinya juga Tama
begitu akur. Chelsy juga ingin
seperti itu bersama Riana
nantinya.
..

Selesai makan malam yang
terlalu malam itu Chelsy dan
Arkan pun langsung tidur di
kamar masing -masing karena
lelah dan kenyang makan.
Disaat Chelsy berada di
Kuningan, ketiga teman Chelsy
sedang berkumpul di rumah
Rindu. Mereka semua tidak ada
yang tahu jika Chelsy pergi
bersama Arkan.
Chelsy memang sengaja
tidak memberitahu
teman-temannya karena ia tidak
mau membuat Rindu salah
faham kepadanya. Secara Rindu
itu sangat menyukai Arkan.
Keesokannya Arkan
membawa Chelsy jalan-jalan.
Raja tidak ikut karena bocah itu
memilih ikut dengan Opa dan
Oma nya ke acara perjamuan
dengan pejabat pemerintahan
setempat.
"Boleh ambil photo berdua
tidak?" tanya Arkan saat mereka
berada di sebuah tempat wisata
disana.
"Boleh, tapi jangan
di-posting." jawab Chelsy.
Arkan menoleh kepada
Chelsy, " kenapa tidak boleh
di-posting?" tanya Arkan.
"Nanti Rindu lihat takutnya
dia cemburu." jawab Chelsy.
"Ngapain takut? Aku kan
bukan pacarnya Rindu."
"Memang bukan pacarnya
Rindu, tapi kan Rindu s**a
sama kak Arkan..jadi aku harus
menghargai perasaan dia."
jawab Chelsy.
"Kalau aku tidak s**a sama
Rindu dan s**anya sama orang
lain bagaimana?" tanya Arkan.
"Euumm..itu sih hak kak
Arkan." jawab Chelsy.
"Kalau begitu aku berhak
juga posting photo aku sama
kamu." kata Arkan.
"Engga boleh..kalau begitu
aku tidak mau berphoto sama
kak Arkan" tegas Chelsy.
"Oke..aku janji tidak akan
posting." akhirnya Arkan
mengalah
"Janji ya!" kata Chelsy.
"Iya, janji." jawab Arkan.
..

Setelah Arkan berjanji
untuk tidak akan memposting
photo mereka akhirnya Chelsy
pun mau berphoto berdua
dengan Arkan.
Chelsy yang centil dan ceria
tidak sungkan berphoto dengan
Arkan dengan pose yang lucu
dan menggemaskan. Arkan
sebenarnya ingin memposting
di akun pribadinya tapi ia
urungkan.
"Kak Arkan.. bagaimana
perasaan kak Arkan memiliki
saudara tiri?" tanya Chelsy
setelah mereka selesai berphoto.
"Senang..apalagi kak Alin
dan Mas Radit itu orangnya
sangat baik. Om Tama dan
Tante Diana juga. Disana aku
merasa seperti berada di rumah
sendiri." jawab Arkan.
"Akujuga kemungkinan
nanti akan punya saudara tiri
dan aku ingin akur seperti
keluarga kak Arkan." kata
Chelsy.
"Harus d**g, apalagi kak
Riana itu sama baiknya dengan
kak Alin dan dia sangat
menyenangkan." kata Arkan.
Chelsy tiba-tiba tersenyum
sendiri saat ia ingat jika sempat
mengira jika Arkan itu pacarnya
Riana.
"Kenapa kamu
senyum-senyum sendiri?" tanya
Arkan sambil memegang kening
Chelsy.
"Aku ingat dulu sempat
mengira kak Arkan itu pacarnya
kak Riana dan aku mengadu
sama Papa." jawab Chelsy sambil
tertawa.
"Ya ampun.. bisa-bisanya
kamu punya pikiran begitu."
Arkan menyentil kening Chelsy
dan gadis itu tersenyum sambil
meringis.
"Ups maaf.. habisnya aku
gemas sama kamu." Arkan
buru-buru meminta maaf dan
meng # kening Chelsy.
Setelah main seharian,
kedua remaja itu
menyempatkan mampir ke toko
oleh-oleh. Chelsy dan Arkan
membeli banyak oleh-oleh
untuk dibawa pulang karena
besok pagi mereka akan pulang
ke Jakarta.
Bagasi belakang mobil
Arkan penuh dengan oleh-oleh
saat mereka pulang. Di rumah
Raja juga baru pulang bersama
Opa dan Omanya.
Riana dan Wisnu baru
selesai melakukan sesi
pemotretan untuk prewedding
di villa Wisnu di Puncak. Semua
kru sudah kembali ke Jakarta
kecuali Wisnu dan Riana yang
masih ingin bersantai disana.
Riana sudah tanggung bilang
selesai besok kepada Ayah dan
Bundanya jadi mereka bisa
bersantai disana sampai besok.
"Ternyata mau nikah itu
banyak yang harus diurus ya."
Kata Riana.
"Iya..saya sudah dua kali
begini." Kata Wisnu.
"Dulu perasaan Mas Wisnu
bagaimana saat mempersiapkan
pernikahan dengan Mbak
Amanda?" tanya Riana.
"Sama seperti sekarang."
jawab Wisnu.
"Hmm.. minimal Mas
Wisnu sudah pengalaman. Aku
baru pertama." kata Riana.
Wisnu tertawa dan
meng # rambut Riana. "Sabar
ya sayang." kata Wisnu dan
Riana mengangguk.
"Mas, hari ini kamu sudah
telpon Chelsy?" tanya Riana.
"Belum." jawab Wisnu.
"Kamu telpon d**g!"
perintah Riana.
"Iya, calon Mama cerewet."
kata Wisnu sambil mengambil
Hpnya dan menghubungi
Chelsy. Wisnu mengaktifkan
mode speaker agar Riana yang
duduk di pangkuannya bisa ikut
mendengarkan.
..

"Hallo Papa..."
"Kamu lagi ngapain Sayang?"
Ddb
"Aku sedang beli oleh-oleh
untuk dibawa pulang besok."
"Oh iya, jangan lupa beli
juga untuk Ayah dan Bundanya
kak Riana!" Kata Wisnu
"Iya, Pah...aku sana kak
Arkan juga Raja pulang besok
pagi." Jawab Chelsy.
"Chelsy..titip salam ya buat
Tante Ajeng!" kata Riana
"Iya, kak..nanti aku
sampaikan."
"Oke, besok bilang sama
Arkan nyetirnya jangan ngebut!"
Pesan Riana
"Iya kak." Jawab Chelsy.
Wajah Wisnu terlihat
tenang setelah mendengar kabar
putrinya di Kuningan begitu
juga dengan Riana. Sebelum
Riana pacaran dengan Wisnu ia
sudah sangat menyayangi
Chelsy.
"Kamu sudah bilang kan
sama Ayah dan Bunda kalau
akan pulang besok?" tanya
Wisnu.
"Iya, rencana awal kan
pemotretan untuk prewedding
itu dua hari. Tidak sangka sehari
juga sudah kelar padahal aku
sudah terlanjur bilang dua hari
sama Ayah dan Bunda" jawab
Riana.
"Itu artinya kita punya
kesempatan berduaan disini."
bisik Wisnu.
"Kesempatan apa?" tanya
Riana pura-pura tidak mengerti.
"Kesempatan bikin adiknya
Chelsy." jawab Wisnu.
"Nikah saja belum sudah
getol bikin adiknya Chelsy."
Riana mencubit perut Wisnu
dengan gemas.
"Biar cepet jadi, Ri..
bukansnya kamu juga s**a
jawab Wisnu sambil meng #
l # Riana.
"Euumm.iya.." jawab Riana
tertawa dan tangannya
mem # l # Wisnu
kemudian b # mereka pun
saling bert # .
...

Kedua tangan Wisnu
meny # dibalik ro # Riana dan
meng # pah # yang mulus.
Riana merap # t #
hingga sep # pay #
yang besar dan kencang
men # di d # Wisnu.
Wisnu terus mel # b
Riana dengan ral # dan Riana
pun memb # . Lid
mereka saling memb # dan
saling mengh # .
Wisnu sudah tidak dapat
menahan dirinya lagi meskipun
hari pernikahan mereka hanya
tinggal beberapa Minggu lagi.
Riana terlalu mengg # untuk
Wisnu abaikan. Dan Riana pun
sama seperti Wisnu. Ia sudah
tidak bisa menolak pesona dan
sent # Pak Dosen yang sudah
membuatnya
Ket # ....

Lumatan b # Wisnu di
b # ranum Riana berakhir dan
kini beralih men # l # Riana
dan meng # dengan
lembut membuat Riana
mend # sambil memej #
matanya.
Lidah hangat Wisnu terasa
mengg # kulit l # yang
sangat s # .
"Kita berenang yuk, Ri!" ajak
Wisnu dengan suara yang
terdengar berat dan matanya
sudah mulai terlihat merah
karena terbakar g # .
"Renang kayak kemarin?"
tanya Riana sambil bal #
meng # l # Wisnu.
"Iya, kita renang seperti
kemarin. Saya rasa sekarang
tidak akan turun hujan." jawab
Wisnu berbisik.
"Renangnya tidak pake
apa-apa?" tanya Riana
menggoda.
"Ya...tidak pake apa-apa."
jawab Wisnu sambil melepaskan
satu persatu kancing kemeja
Riana sambil menatap wajah
Riana dengan matanya yang
merah.
Riana membiarkan saja saat
Wisnu melep # semua
pakai di ruang tengah
villa itu karena ia tahu jika
penjaga villa tidak akan berani
masuk tanpa ada perintah dari
Wisnu
..

Setelah berhasil membuat
Riana tel # , Wisnu juga
melep # semua p
disana sehingga mereka berdua
sama-sama tel # # # b # .
Riana men # sal #
saat melihat milik Wisnu yang
panj dan besar itu
mengg # dengan gag #
di sel # pria itu.
Tan kek Wisnu
menuntun Riana menuju kolam
renang di halaman belakang
villa yang tadi sempat mereka
pakai untuk pemotretan untuk
prewedding mereka.
.
Sore itu udara sangat sejuk
dan cenderung dingin. Wisnu
men # Riana turun kedalam
kolam dan meml # gadis
cantik itu disana.
"Katanya ngajak renang.
kata Riana sambil mem #
leh # Pak Dosen.
"Pemanasan dulu!" kata
Wisnu kemudian mem # b #
Riana dan Riana pun
menyambutnya.
Kedua b # itu saling
mel # dan meng # dan
lid # mereka saling memb # .
Di bawah sana milik Wisnu dan
milik Riana saling meny # dan
saling mn .
Sementara satu tangan
Wisnu sibuk mer # pay #
Riana dan tangan satunya lagi
men # belakang l Riana.
Riana tiba-tiba melep
diri dan kemudian berenang
menjauh ke ujung kolam dan
Wisnu pun meng # .
"Jangan kabur kamu!" kata
Wisnu kemudian berenang
meng # Riana.
Riana tertawa cekikikan
ketika akhirnya Wisnu berhasil
men # dan membali
memer # agar tidak
bisa kabur lagi.
..

"Dapat kamu gadis nakal!"
kata Wisnu dan Riana tertawa
kemudian mem # leher
Wisnu dengan manja.
B # keduanya kembali
saling mem # dan Riana
beberapa kali mengg # b #
Wisnu membuat Pak Dosen itu
mengerang.
Wisnu melep # p #
b # mereka kemudian
meng # t # Riana dan ia
dudukkan dipinggir kolam.
Selanjutnya Wisnu membuka
sep # p # Riana itu hingga
cel sem terlihat
mer # di depan kepal # .
"Pah # buka sen
le , Ri!" perintah Wisnu dan
Riana pun menurut.
Perl # b # Wisnu
meng # p # p # Riana
dan menghis # membuat
pah # mulu # itu mer # kebiruan.
Wisnu membuat banyak
k # # di p # mulus itu
sebelum lid # mener #
ked # cel # sem itu.
"@@...Masss..." Riana
mend # saat l # hangat
Wisnu mulai men # celah
sempit # dan mena - di
dalam sana.
Riana meng #
sem leb tepat di depan
kep # Wisnu. Kedua tangannya
menc # kep # Pak Dosen
dan mer # r # .
"Mas...aku sudah tidak
t # ." Riana mer # saat
gel # rasa nikm # mulai
mengg # raganya.
Wisnu mengangkat
kep # dan kemudian ia pun
naik dan kemudian meng #
Riana ke kursi jemur dan
memb # t # Riana
disana.
..

Udara sore menyal # t #
polos mereka dan Wisnu pun
mer # di # tub # Riana.
Kursi jemur di kolam renangnya
cukup empuk sehingga cukup
nyaman untuk mereka memadu
kasih disana.
"B # p # , sayang!"
bisik Wisnu dan Riana pun
menurut. Wisnu memp #
tub # diantara kedua p #
Riana yang sudah terbuka lebar
dan perlahan miliknya mulai
mel # masuk membuat Riana
menj # kecil. Meskipun sudah
sering melakukan penyatuan
tetapi Riana masih sering kaget
saat mili # Wisnu yang p #
dan besar itu mulai
mem # .
..

Taman belakang villa
Wisnu yang sepi itu menjadi
saksi bisu saat kedua t #
telanjang itu menyatu. Suara
erangan dari b # kedua #
terdengar saling bers # .
Wisnu mem # t #
Riana yang ada dibawahnya
membuat Riana menj # -jer #
keenakan. Setelah cukup lama
akhirnya merekapun sampai
pada p # . T # Riana
dan t # Wisnu meng #
bersama saat milik Wisnu
meny # benihnya di
dalam r # Riana.
Setelah tun # ked #
berbaring sambil mengatur
nafasnya. Mereka kembali
berenang setengah jam
kemudian dan baru berakhir
ketika hari mulai gelap.

Note:L..i..k..e .mu penyemangat Mimin ❤️❤️💙❤️💙💙❤️💙💙❤️💙❤️❤️💙❤️

Address

Minas
28466

Telephone

+6285861855286

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Resep inspirasi bunda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category