22/01/2026
Beragama dengan Akal Sehat: Antara Tafsir, Emosi, dan Kedewasaan Jiwa
Beragama sejatinya bukan sekadar menghafal teks atau memegang satu tafsir lalu menutup diri dari kenyataan. Ketika seseorang hanya berpegang pada tafsirnya sendiri tanpa mau berdialog, belajar, dan memahami konteks, maka agama yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi sumber kemarahan. Di titik inilah iman kehilangan fungsinya sebagai cahaya, dan bergeser menjadi alat pembenaran ego.
Orang yang mudah tersulut emosi atas perbedaan, yang cepat merasa terancam oleh sudut pandang lain, sering kali bukan karena agamanya kuat, melainkan karena jiwanya rapuh. Ia tidak sedang membela Tuhan, tetapi sedang membela rasa takut dan ketidakpastian dalam dirinya sendiri. Agama yang matang selalu melahirkan ketenangan, bukan kegaduhan.
Kedewasaan beragama ditandai oleh kemampuan berpikir jernih, mengelola emosi, dan memahami bahwa tafsir manusia selalu terbatas. Tuhan Maha Sempurna, tapi pemahaman kita tentang-Nya selalu bisa salah. Karena itu, orang yang sehat secara spiritual dan mental akan rendah hati dalam beriman, bukan merasa paling benar sendiri.
Jika keberagamaan justru melahirkan kebencian, kemarahan berlebihan, dan ketidakmampuan mengelola emosi, maka yang perlu diperhatikan bukan hanya aspek teologinya, tetapi juga kondisi psikologisnya. Kesehatan jiwa adalah bagian dari kemanusiaan. Mencari bantuan profesional bukan aib, justru tanda tanggung jawab terhadap diri sendiri dan masyarakat.
Pada akhirnya, agama bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang paling lembut hatinya. Bukan siapa yang paling marah membela Tuhan, tetapi siapa yang paling mampu menghadirkan kasih, akal sehat, dan kedamaian dalam hidup bersama.
Ruwiyanto
Kandidat Doktor Pendidikan Agama Islam
Universitas Islam Malang