02/07/2018
PREDIKSI JURNALISME DIGITAL 2038
Oleh: Arlian Buana
Akibat nama Sri Lestari yang tak ada sangkut-pautnya dengan sifat lestari, saya pun mulai bimbang, apa betul ada sesuatu yang bisa lestari di atas dunia ini. Bukankah sesuatu itu senaniasa berubah-ubah? Bukankah perubahan itu memang obyektif perlu? Bukankah yang permanen, yang abadi, adalah proses perubahan itu sendiri? Kenapa sih orang s**a benar sama lestari-lestarian? Jika ular saja bisa ganti kulit, mengapa keadaan mesti lestari, mesti permanen?
“Ah, segala sesuatu itu tentu ada kecualinya d**g. Dari sejuta kerbau, pasti ada seekor yang bule,” kata kawan saya.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, ada juga yang punya sifat lestari itu.”
“Misalnya?”
“Misalnya makanan di dalam restorasi kereta api.”
(Mahbub Djunaidi, 30 November 1986)
***
Kecuali makanan di restorasi kereta api, memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Di dunia digital, kita bahkan hampir tak bisa menikmati satu situasi ajek dan ayem; perubahan itu bukan saja terus berlangsung, tapi berlangsungnya amat sangat cepat.
Sebagai contoh: 2011 adalah tahun kejayaan Twitter. Tahun itu muncul adagium “Facebook tempatnya teman sekolah, Twitter tempat orang-orang yang kamu ingin sekolah bareng.” Jadilah Twitter sebagai platform tercepat dan terbesar untuk menyebarkan informasi. Perusahaan-perusahaan apa saja, termasuk penerbit dan media, memanfaatkan Twitter sebagai kanal untuk melayani konsumennya. Selebtwit seperti Arman Dhani dan Amrazing bermunculan. Facebook seolah koit. Di tahun ini p**a lahir Merdeka.com yang memakai tagar (yang dipopulerkan Twitter) warna-warni untuk menandai topik-topik terhangatnya.
Tentu saja Facebook tak betul-betul keok. Mark Zuckerberg cs bekerja dalam diam memperbaiki algoritma mereka. Hasilnya, pada 2013, mereka menambal apa yang selama ini menjadi kekurangan mereka dibanding Twitter (dengan update real time di pojok kanan bawah) dan menyempurnakan newsfeed yang berdasarkan kebiasaan dan preferensi pengguna. Perlahan Facebook kembali ke atas, pengguna aktif mereka semakin tumbuh. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, dari yang besar sampai yang abal-abal, mulai membangun dan memanfaatkan fanpage di Facebook.
Bersamaan dengan itu p**a, demam selfie melanda dunia dan Instagram tumbuh pesat. Orang berlomba-lomba memonyong-monyongkan mulutnya seperti bebek di depan kamera untuk diposting di Instagram, sampai muncul teknologi bernama tongsis. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, mulai mencoba-coba bagaimana memanfaatkan media sosial ini.
Di tempat lain, YouTube semakin matang sebagai situsweb berbagi video. Di industri pertelevisian, muncul Net. TV yang lebih mirip rumah produksi untuk konten-konten YouTube daripada stasiun televisi. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, mulai meraba-raba bagaimana bermain di sini.
Di sisi lain, pasar aplikasi mobile tumbuh tak kalah pesat. Hingga 2013 saja, terdapat lebih dari satu juta aplikasi di Google Play dan diunduh lebih dari 50 miliar kali. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, ikut-ikutan bikin aplikasi. Beberapa saja yang sampai sekarang masih bertahan, lebih banyak yang modar.
Orang-orang sepertinya mulai menyadari lagi kedahsyatan Facebook pada 2014, dan berbond**g-bond**g nyampah di sana untuk menyambut pilpres. Jadilah Facebook sebagai medan perang paling luas dan paling panas di Indonesia seperti halnya pemilu AS 2008 yang memenangkan Barrack Obama. Pilpres usai, tapi tidak pertempurannya. Sampai sekarang, dua kubu masih terus saling serang. Media tambah girang karena banyak mendulang traffic dari Facebook.
Januari 2015, sebuah media sosial yang sebenarnya adalah aplikasi untuk pengiriman pesan gambar dan video yang bisa menghilang dalam 24 jam, Snapchat, mengenalkan fitur baru bernama “Discover”, di mana beberapa media di AS bisa menyapa pengguna Snapchat yang sebagian besar remaja dengan konten-konten yang sesuai dengan platform tersebut. Hasilnya luar biasa, satu snap di sana bisa mendatangkan puluhan juta pemirsa.
Snapchat Discover sebagai produk memang tidak terlalu mendunia karena hingga saat ini belum bekerja sama dengan media non-bahasa Inggris, tapi ia menyita perhatian banyak orang dan semakin membuka mata para pekerja media mengenai “distributed content”. Bahwa kontenmu tidak harus dibaca atau ditonton orang atau siamang atau kukang di situswebmu. Kamu bisa mendistribusikannya ke platform mana saja yang kamu s**a. Kamu bisa melakukannya di Instagram seperti yang dilakukan di BBC, atau di Facebook seperti NowThis dan AJ+ yang di tahun 2015 menjadi produsen video terbesar di sana, atau di mana saja. Toh, di sana juga kamu bisa mendapatkan pemirsa.
Raksasa-raksasa internet sigap menyambut era distributed content. Facebook menciptakan instant article, Google bikin accelerated mobile project (AMP) yang kecepatan bukanya hanya nol koma sekian detik, dan Apple punya Apple News. Bahkan browser seperti UC dan Opera tak mau ketinggalan. Di Indonesia, aplikasi seperti Baca Berita (Babe) dan Kurio pun lumayan berkembang. Dan yang paling femomenal tentu saja LINE Today, milik aplikasi perpesanan LINE, di mana pemirsanya adalah remaja seperti kebanyakan pengguna Snapchat.
Sial bagi Snapchat, fitur utama aplikasi mereka, “My Story” dikembangkan tiruannya oleh Facebook. Kini semua perusahaan andalan di bawah Facebook; Instagram, WhatssApp, Messenger, dan Facebook sendiri, punya fitur Story. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, berlomba-lomba memaksimalkan fungsi fitur satu ini.
Banyak pakar media pun mulai meramalkan: masa depan bukan lagi di media sosial, melainkan di instant messaging.
2016, Donald Trump menang pilpres AS. Penyebaran berita palsu atau hoax begitu massif dan lapangannya adalah media sosial terutama Facebook. Produsennya bukan hanya orang AS, bahkan segerombolan anak muda Makedonia bisa begitu leluasa ikut-ikutan bikin konten hoax tentang Pilpres AS dan menyebarkannya dengan mudah dan meraup untung jutaan dolar.
Di Indonesia, yang jelas, produksinya sudah menjadi ladang uang yang subur dan kemungkinan besar akan semakin subur menjelang pemilu 2019. Bersiaplah dan waspadalah, atau sambutlah dan bers**acitalah kalau kamu berniat merumput di lahan basah itu. (Tapi hati-hati, Facebook dan Google dimintai banyak pihak agar bertanggung jawab mengurangi persebarannya dan perlahan-lahan mereka mulai melakukannya. Sebentar lagi, distribusi hoax tidak akan semudah dulu lagi.)
Perubahan-perubahan di atas hanya yang umum-umum dan besar-besar dan diketahui khalayak saja. Ada banyak inovasi-inovasi kecil, perubahan-perubahan minor lain, yang bisa jadi di masa depan akan menginspirasi perubahan yang lebih besar. Di dunia UX, misalnya, telah dikembangkan teknologi infinite scroll yang memungkinkan pembaca tidak lagi perlu klik sana klik sini untuk baca banyak berita—sementara masih banyak media di Indonesia yang mengharuskan pembacanya mengklik lima kali untuk membaca satu berita. Ada p**a pengembangan teknologi yang memungkinkan orang membaca berita yang terjadi di dekat rumahnya saja, semua dimungkinkan dengan perkembangan maps yang luar biasa.
Banyak lagi riak-riak internet lainnya. Untuk dunia jurnalistik, Anda bisa membaca pelbagai perkembangannya di Niemanlab. Sejak 2011, Niemanlab bahkan membuat prediksi tahunan tentang apa saja yang akan terjadi, teknologi apa saja yang patut diantisipasi, dan model-model konten bagaimana yang harus dikembangkan.
Cerita perubahan di atas juga saya sarikan dari prediksi-prediksi tahunan Niemanlab yang diisi para pakar dan praktisi jurnalisme. Dari sana saya tahu, dunia ini, dunia yang saya geluti, bergerak maju.
Anda boleh saja menyesalkan perkembangan jurnalisme digital Indonesia yang semakin dangkal. Anda boleh bergabung di barisan Pak Bre Redana. Kau boleh menyesalkan mengapa media-media tradisional yang sudah punya infrastruktur newsroom yang kuat seperti Kompas dan Tempo dan Republika begitu gagap di hadapan internet dan justru mengikuti cara-cara menulis berita ala Detik.com yang seringkali 5W 1 H pun belum (mereka sudah merasa cukup dengan 3 W).
Kamu boleh menyesalkan mengapa jurnalisme digital kita tidak punya kecakapan storytelling memadai, tidak punya orientasi untuk kedalaman dan kelengkapan dan keutuhan informasi, dan belum pernah melahirkan laporan investigasi yang gemanya besar.
Kamu boleh menyesal … tapi begitulah kenyataannya. Makanya, jangan sering-sering baca Niemanlab. Bisa sakit hati. Sementara di luar sana dunia berlari demikian cepatnya, sementara di luar sana para wartawan sibuk mengembangkan VR Journalism, newsroom yang semakin terintegrasi dengan IT, dan entah apa lagi, kamu masih sibuk menunggu omongan Amien Rais selanjutnya atau apa lagi sensasi dari Awkarin.
Ada berapa banyak buku bermutu berdasarkan laporan jurnalistik dalam dua puluh tahun terakhir? Bisa dihitung jari. Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi, Saksi Kunci, Jurnalisme Satrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Dari media online, paling-paling yang bisa diketengahkan hanya : Antologi Prosa Jurnalisme. Apa lagi? Buku-bukuan kump**an twit atau status malah lebih banyak.
Jangan sedih. Sudah ada sinyal-sinyal perbaikan, kok. Tenang saja. Kompas mengembangkan Visual Interaktif Kompas yang penuh warna, meski belakangan lebih sering jadi tempat untuk konten berbayar. Tempo bikin laman investigasi di situswebnya, walaupun belum serius menggarapnya atau minimal mengunggah semua laporan investigasi yang pernah mereka lakukan. Detik juga bikin X-Detik, walaupun enggak bagus-bagus amat. Katadata dan Tirto.ID semakin matang dengan konten-konten yang mengandalkan data dan infografik. Beritagar juga beberapa kali menurunkan reportase dari daerah yang cukup ciamik.
Selalu ada harapan.
Sebetulnya saya malas bikin prediksi kecuali prediksi bola. Tapi saya melihat jurnalisme digital di Indonesia akan semakin membaik. Walaupun sebetulnya saya tidak yakin-yakin amat dengan apa yang saya tulis, anggap saja ini perkiraan kasar, atau harapan, atau pekerjaan rumah yang harus dibereskan, bukan ramalan bukan p**a nubuat.
Lo boleh sekarang baca berita dari LINE Today aja. Tapi sampai kapan? Sekarang lo masih punya banyak waktu buat baca berita sepotong-sepotong, buka tab ini buka tab itu, tapi sampai kapan lo punya waktu luang?
Remaja zaman sekarang, yang hanya memerlukan informasi selebritas yang mereka follow di Instagram, beberapa tahun lagi akan punya kebutuhan informasi yang sangat berbeda dan mereka tentu menuntut sumber informasi yang interaktif dan memikat, lengkap dan mendalam, dan kalau bisa di satu pintu. (Sebagaimana mereka mendapatkannya di Snapchat Discover atau LINE Today).
Kalau jurnalisme kita masih gagap di hadapan internet dan generasi baru penggunanya, gagap dalam bercerita dan merespons teknologi termutakhir, ia hanya akan menjadi jurnalisme restorasi kereta api.
*Ditulis sebagai pemantik diskusi Kopi dan Manusia #2 di Kopi Tanya, Jl. Utan Kayu No. 73A Jakarta Timur, pada Minggu, 1 Juli 2018.