Kopi Tanya

Kopi Tanya Jl. Utan Kayu No. 73A Jakarta Timur

Di Kopi Tanya, tak pernah ada rahasia. Kaubisa melihat, dan bahkan ikut menyeduh, kopi pesananmu. Terima kasih Vita Balq...
27/08/2018

Di Kopi Tanya, tak pernah ada rahasia. Kaubisa melihat, dan bahkan ikut menyeduh, kopi pesananmu. Terima kasih Vita Balqis, atas kunjungannya.



Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku. (Joko Pinurbo)Photo by Ghazali Hasan
26/08/2018

Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama. Namaku. (Joko Pinurbo)

Photo by Ghazali Hasan





Pulanglah dengan girang jika p**ang adalah menulis ulang sajak yang rumpang. (Surat Pulang - Joko Pinurbo)    **ang
20/08/2018

Pulanglah dengan girang jika p**ang adalah menulis ulang sajak yang rumpang.

(Surat Pulang - Joko Pinurbo)




**ang

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah hadir di diskusi Kopi dan Manusia  #3 (Buruh Digital Sedunia, Bersatulah!) ber...
30/07/2018

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah hadir di diskusi Kopi dan Manusia #3 (Buruh Digital Sedunia, Bersatulah!) bersama Ikhsan Raharjo (Sekjen SINDIKASI - Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi) di Kopi Tanya.

Sampai jumpa di perbincangan-perbincangan berikutnya.



Catatan dari seorang peserta diskusi Kopi dan Manusia  #3 (Buruh Digital Sedunia, Bersatulah!). Selamat membaca.https://...
23/07/2018

Catatan dari seorang peserta diskusi Kopi dan Manusia #3 (Buruh Digital Sedunia, Bersatulah!). Selamat membaca.

https://puandisinituan.wordpress.com/2018/07/22/buruh-digital-sedunia-bersatulah

Satu hari sebelum hari buruh tahun ini, di kedai kopi samping kampus. Saya dan beberapa teman mahasiswa lainnya menyaksikan berita mengenai titik-titik demo Hari Buruh esok hari di televisi . Lalu …

Catatan peserta diskusi Kopi dan Manusia  #2 (Prediksi Jurnalisme Digital 2018). Selamat membaca.
19/07/2018

Catatan peserta diskusi Kopi dan Manusia #2 (Prediksi Jurnalisme Digital 2018). Selamat membaca.

Secara tidak sengaja saya melihat re-Tweet dari akun Remotivi tentang diskusi menarik ini di kedai Kopi Tanya. Sebuah materi diskusi yang terdengar crispy namun tak ringan untuk dibahas dari sudut …

KOPI DAN MANUSIA  #3(BURUH DIGITAL SEDUNIA, BERSATULAH!)Di dalam sistem kapitalisme, kelas masyarakat terbagi menjadi du...
17/07/2018

KOPI DAN MANUSIA #3
(BURUH DIGITAL SEDUNIA, BERSATULAH!)

Di dalam sistem kapitalisme, kelas masyarakat terbagi menjadi dua, yaitu buruh dan pemilik modal. Siapapun dia, apapun jabatannya di perusahaan, selama dia menerima upah dari pemilik modal atas apa yang dilakukannya, dia tetaplah buruh.

Namun, politik bahasa Orde Baru menderadikalisasi gerakan kaum buruh dengan beragam kosakata yang terdengar lebih lunak, semacam karyawan atau pegawai.

Hal ini berdampak signifikan. Di hari ini, banyak pekerja kerah putih yang menolak disebut buruh. Karena di mata mereka, buruh adalah sebutan bagi para pekerja kasar. Padahal, sebenarnya keduanya sama saja. Sama-sama pekerja upahan yang memeras keringat dengan menjilat-jilat pantat korporat.

Atas dasar itulah, kemunculan SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi) menjadi sesuatu yang menarik untuk diamati. Alih-alih menggunakan simbol-simbol usang perlawanan kaum pekerja, kelompok ini tampil dengan gaya yang lebih segar ala generasi milenial.

Dengan entengnya, mereka tampil santai dengan beragam jargon yang menggelitik, semacam “Kurangi Jam Kerja, Perbanyak Bercinta” atau “Belum Tipes, Belum Loyal”.

Lalu, kenapa gerakan buruh harus mengikuti gaya zaman? Kenapa framing media terhadap gerakan buruh nyaris selalu negatif? Kenapa pekerja media dan industri kreatif harus berserikat? Apakah pekerja lepas yang memiliki alat produksi sendiri masuk dalam kategori buruh?

Untuk membahas segala tetek bengek tentang isu perburuhan tersebut, kami bermaksud mengundang Ikhsan Raharjo selaku Sekjen SINDIKASI dalam diskusi bertajuk BURUH DIGITAL SEDUNIA, BERSATULAH! pada Sabtu, 21 Juli 2018, jam 19:00, di Kopi Tanya, Jl. Utan Kayu No. 73A Jakarta Timur.

Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum. Silakan datang, dan mari kita nikmati secangkir kopi sambil berbincang panjang.

Salam,

TAREKAT KAFEINIYAH | KOPI TANYA
CP: Herri K. Sulam (+62 857 8235 6109)

===================

Ikhsan Raharjo lulus dari Pogram Studi Jurnalistik di Universitas Padjadjaran, Bandung. Pernah menjadi jurnalis di KBR68H dan menjadi Anggota Divisi Advokasi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jakarta. Saat ini menjadi jurnalis Al Jazeera TV Biro Jakarta dan menjadi Sekretaris Jenderal SINDIKASI (Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi).

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah hadir di pembukaan Kopi Tanya pada Selasa, 3 Juli 2018, lalu. Mulai sekarang, ...
08/07/2018

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah hadir di pembukaan Kopi Tanya pada Selasa, 3 Juli 2018, lalu. Mulai sekarang, Kopi Tanya sudah resmi buka setiap hari mulai jam 15:00, dan tutup saat kita sudah sama-sama kehabisan bahan perbincangan.

Sampai ketemu di lain waktu, secangkir kopi menantimu!

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah menyempatkan diri untuk hadir di diskusi Kopi dan Manusia  #2 (Prediksi Jurnal...
05/07/2018

Terima kasih untuk kawan-kawan yang sudah menyempatkan diri untuk hadir di diskusi Kopi dan Manusia #2 (Prediksi Jurnalisme Digital 2038) bersama Arlian Buana. Sampai jumpa di perbincangan-perbincangan menyenangkan berikutnya.



PREDIKSI JURNALISME DIGITAL 2038Oleh: Arlian BuanaAkibat nama Sri Lestari yang tak ada sangkut-pautnya dengan sifat lest...
02/07/2018

PREDIKSI JURNALISME DIGITAL 2038
Oleh: Arlian Buana

Akibat nama Sri Lestari yang tak ada sangkut-pautnya dengan sifat lestari, saya pun mulai bimbang, apa betul ada sesuatu yang bisa lestari di atas dunia ini. Bukankah sesuatu itu senaniasa berubah-ubah? Bukankah perubahan itu memang obyektif perlu? Bukankah yang permanen, yang abadi, adalah proses perubahan itu sendiri? Kenapa sih orang s**a benar sama lestari-lestarian? Jika ular saja bisa ganti kulit, mengapa keadaan mesti lestari, mesti permanen?
“Ah, segala sesuatu itu tentu ada kecualinya d**g. Dari sejuta kerbau, pasti ada seekor yang bule,” kata kawan saya.
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, ada juga yang punya sifat lestari itu.”
“Misalnya?”
“Misalnya makanan di dalam restorasi kereta api.”
(Mahbub Djunaidi, 30 November 1986)

***
Kecuali makanan di restorasi kereta api, memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Di dunia digital, kita bahkan hampir tak bisa menikmati satu situasi ajek dan ayem; perubahan itu bukan saja terus berlangsung, tapi berlangsungnya amat sangat cepat.

Sebagai contoh: 2011 adalah tahun kejayaan Twitter. Tahun itu muncul adagium “Facebook tempatnya teman sekolah, Twitter tempat orang-orang yang kamu ingin sekolah bareng.” Jadilah Twitter sebagai platform tercepat dan terbesar untuk menyebarkan informasi. Perusahaan-perusahaan apa saja, termasuk penerbit dan media, memanfaatkan Twitter sebagai kanal untuk melayani konsumennya. Selebtwit seperti Arman Dhani dan Amrazing bermunculan. Facebook seolah koit. Di tahun ini p**a lahir Merdeka.com yang memakai tagar (yang dipopulerkan Twitter) warna-warni untuk menandai topik-topik terhangatnya.

Tentu saja Facebook tak betul-betul keok. Mark Zuckerberg cs bekerja dalam diam memperbaiki algoritma mereka. Hasilnya, pada 2013, mereka menambal apa yang selama ini menjadi kekurangan mereka dibanding Twitter (dengan update real time di pojok kanan bawah) dan menyempurnakan newsfeed yang berdasarkan kebiasaan dan preferensi pengguna. Perlahan Facebook kembali ke atas, pengguna aktif mereka semakin tumbuh. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, dari yang besar sampai yang abal-abal, mulai membangun dan memanfaatkan fanpage di Facebook.

Bersamaan dengan itu p**a, demam selfie melanda dunia dan Instagram tumbuh pesat. Orang berlomba-lomba memonyong-monyongkan mulutnya seperti bebek di depan kamera untuk diposting di Instagram, sampai muncul teknologi bernama tongsis. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, mulai mencoba-coba bagaimana memanfaatkan media sosial ini.

Di tempat lain, YouTube semakin matang sebagai situsweb berbagi video. Di industri pertelevisian, muncul Net. TV yang lebih mirip rumah produksi untuk konten-konten YouTube daripada stasiun televisi. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, mulai meraba-raba bagaimana bermain di sini.

Di sisi lain, pasar aplikasi mobile tumbuh tak kalah pesat. Hingga 2013 saja, terdapat lebih dari satu juta aplikasi di Google Play dan diunduh lebih dari 50 miliar kali. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, ikut-ikutan bikin aplikasi. Beberapa saja yang sampai sekarang masih bertahan, lebih banyak yang modar.

Orang-orang sepertinya mulai menyadari lagi kedahsyatan Facebook pada 2014, dan berbond**g-bond**g nyampah di sana untuk menyambut pilpres. Jadilah Facebook sebagai medan perang paling luas dan paling panas di Indonesia seperti halnya pemilu AS 2008 yang memenangkan Barrack Obama. Pilpres usai, tapi tidak pertempurannya. Sampai sekarang, dua kubu masih terus saling serang. Media tambah girang karena banyak mendulang traffic dari Facebook.

Januari 2015, sebuah media sosial yang sebenarnya adalah aplikasi untuk pengiriman pesan gambar dan video yang bisa menghilang dalam 24 jam, Snapchat, mengenalkan fitur baru bernama “Discover”, di mana beberapa media di AS bisa menyapa pengguna Snapchat yang sebagian besar remaja dengan konten-konten yang sesuai dengan platform tersebut. Hasilnya luar biasa, satu snap di sana bisa mendatangkan puluhan juta pemirsa.

Snapchat Discover sebagai produk memang tidak terlalu mendunia karena hingga saat ini belum bekerja sama dengan media non-bahasa Inggris, tapi ia menyita perhatian banyak orang dan semakin membuka mata para pekerja media mengenai “distributed content”. Bahwa kontenmu tidak harus dibaca atau ditonton orang atau siamang atau kukang di situswebmu. Kamu bisa mendistribusikannya ke platform mana saja yang kamu s**a. Kamu bisa melakukannya di Instagram seperti yang dilakukan di BBC, atau di Facebook seperti NowThis dan AJ+ yang di tahun 2015 menjadi produsen video terbesar di sana, atau di mana saja. Toh, di sana juga kamu bisa mendapatkan pemirsa.

Raksasa-raksasa internet sigap menyambut era distributed content. Facebook menciptakan instant article, Google bikin accelerated mobile project (AMP) yang kecepatan bukanya hanya nol koma sekian detik, dan Apple punya Apple News. Bahkan browser seperti UC dan Opera tak mau ketinggalan. Di Indonesia, aplikasi seperti Baca Berita (Babe) dan Kurio pun lumayan berkembang. Dan yang paling femomenal tentu saja LINE Today, milik aplikasi perpesanan LINE, di mana pemirsanya adalah remaja seperti kebanyakan pengguna Snapchat.

Sial bagi Snapchat, fitur utama aplikasi mereka, “My Story” dikembangkan tiruannya oleh Facebook. Kini semua perusahaan andalan di bawah Facebook; Instagram, WhatssApp, Messenger, dan Facebook sendiri, punya fitur Story. Banyak perusahaan, termasuk penerbit dan media, berlomba-lomba memaksimalkan fungsi fitur satu ini.
Banyak pakar media pun mulai meramalkan: masa depan bukan lagi di media sosial, melainkan di instant messaging.

2016, Donald Trump menang pilpres AS. Penyebaran berita palsu atau hoax begitu massif dan lapangannya adalah media sosial terutama Facebook. Produsennya bukan hanya orang AS, bahkan segerombolan anak muda Makedonia bisa begitu leluasa ikut-ikutan bikin konten hoax tentang Pilpres AS dan menyebarkannya dengan mudah dan meraup untung jutaan dolar.

Di Indonesia, yang jelas, produksinya sudah menjadi ladang uang yang subur dan kemungkinan besar akan semakin subur menjelang pemilu 2019. Bersiaplah dan waspadalah, atau sambutlah dan bers**acitalah kalau kamu berniat merumput di lahan basah itu. (Tapi hati-hati, Facebook dan Google dimintai banyak pihak agar bertanggung jawab mengurangi persebarannya dan perlahan-lahan mereka mulai melakukannya. Sebentar lagi, distribusi hoax tidak akan semudah dulu lagi.)

Perubahan-perubahan di atas hanya yang umum-umum dan besar-besar dan diketahui khalayak saja. Ada banyak inovasi-inovasi kecil, perubahan-perubahan minor lain, yang bisa jadi di masa depan akan menginspirasi perubahan yang lebih besar. Di dunia UX, misalnya, telah dikembangkan teknologi infinite scroll yang memungkinkan pembaca tidak lagi perlu klik sana klik sini untuk baca banyak berita—sementara masih banyak media di Indonesia yang mengharuskan pembacanya mengklik lima kali untuk membaca satu berita. Ada p**a pengembangan teknologi yang memungkinkan orang membaca berita yang terjadi di dekat rumahnya saja, semua dimungkinkan dengan perkembangan maps yang luar biasa.

Banyak lagi riak-riak internet lainnya. Untuk dunia jurnalistik, Anda bisa membaca pelbagai perkembangannya di Niemanlab. Sejak 2011, Niemanlab bahkan membuat prediksi tahunan tentang apa saja yang akan terjadi, teknologi apa saja yang patut diantisipasi, dan model-model konten bagaimana yang harus dikembangkan.

Cerita perubahan di atas juga saya sarikan dari prediksi-prediksi tahunan Niemanlab yang diisi para pakar dan praktisi jurnalisme. Dari sana saya tahu, dunia ini, dunia yang saya geluti, bergerak maju.

Anda boleh saja menyesalkan perkembangan jurnalisme digital Indonesia yang semakin dangkal. Anda boleh bergabung di barisan Pak Bre Redana. Kau boleh menyesalkan mengapa media-media tradisional yang sudah punya infrastruktur newsroom yang kuat seperti Kompas dan Tempo dan Republika begitu gagap di hadapan internet dan justru mengikuti cara-cara menulis berita ala Detik.com yang seringkali 5W 1 H pun belum (mereka sudah merasa cukup dengan 3 W).

Kamu boleh menyesalkan mengapa jurnalisme digital kita tidak punya kecakapan storytelling memadai, tidak punya orientasi untuk kedalaman dan kelengkapan dan keutuhan informasi, dan belum pernah melahirkan laporan investigasi yang gemanya besar.

Kamu boleh menyesal … tapi begitulah kenyataannya. Makanya, jangan sering-sering baca Niemanlab. Bisa sakit hati. Sementara di luar sana dunia berlari demikian cepatnya, sementara di luar sana para wartawan sibuk mengembangkan VR Journalism, newsroom yang semakin terintegrasi dengan IT, dan entah apa lagi, kamu masih sibuk menunggu omongan Amien Rais selanjutnya atau apa lagi sensasi dari Awkarin.

Ada berapa banyak buku bermutu berdasarkan laporan jurnalistik dalam dua puluh tahun terakhir? Bisa dihitung jari. Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi, Saksi Kunci, Jurnalisme Satrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Dari media online, paling-paling yang bisa diketengahkan hanya : Antologi Prosa Jurnalisme. Apa lagi? Buku-bukuan kump**an twit atau status malah lebih banyak.

Jangan sedih. Sudah ada sinyal-sinyal perbaikan, kok. Tenang saja. Kompas mengembangkan Visual Interaktif Kompas yang penuh warna, meski belakangan lebih sering jadi tempat untuk konten berbayar. Tempo bikin laman investigasi di situswebnya, walaupun belum serius menggarapnya atau minimal mengunggah semua laporan investigasi yang pernah mereka lakukan. Detik juga bikin X-Detik, walaupun enggak bagus-bagus amat. Katadata dan Tirto.ID semakin matang dengan konten-konten yang mengandalkan data dan infografik. Beritagar juga beberapa kali menurunkan reportase dari daerah yang cukup ciamik.

Selalu ada harapan.

Sebetulnya saya malas bikin prediksi kecuali prediksi bola. Tapi saya melihat jurnalisme digital di Indonesia akan semakin membaik. Walaupun sebetulnya saya tidak yakin-yakin amat dengan apa yang saya tulis, anggap saja ini perkiraan kasar, atau harapan, atau pekerjaan rumah yang harus dibereskan, bukan ramalan bukan p**a nubuat.

Lo boleh sekarang baca berita dari LINE Today aja. Tapi sampai kapan? Sekarang lo masih punya banyak waktu buat baca berita sepotong-sepotong, buka tab ini buka tab itu, tapi sampai kapan lo punya waktu luang?

Remaja zaman sekarang, yang hanya memerlukan informasi selebritas yang mereka follow di Instagram, beberapa tahun lagi akan punya kebutuhan informasi yang sangat berbeda dan mereka tentu menuntut sumber informasi yang interaktif dan memikat, lengkap dan mendalam, dan kalau bisa di satu pintu. (Sebagaimana mereka mendapatkannya di Snapchat Discover atau LINE Today).

Kalau jurnalisme kita masih gagap di hadapan internet dan generasi baru penggunanya, gagap dalam bercerita dan merespons teknologi termutakhir, ia hanya akan menjadi jurnalisme restorasi kereta api.

*Ditulis sebagai pemantik diskusi Kopi dan Manusia #2 di Kopi Tanya, Jl. Utan Kayu No. 73A Jakarta Timur, pada Minggu, 1 Juli 2018.

Manusia tak henti beranakpinak, sementara zaman terus bergerak. Pesatnya kemajuan teknologi digital beberapa waktu belak...
27/06/2018

Manusia tak henti beranakpinak, sementara zaman terus bergerak. Pesatnya kemajuan teknologi digital beberapa waktu belakangan, membuat kita saat ini hidup di dunia yang serba praktis dan bergegas. Tak terkecuali, di dunia jurnalisme.

Kini, publik tak melulu objek yang cuma bisa menelan informasi yang diproduksi para jurnalis. Saat ini, semua orang adalah subjek sekaligus objek. Bagai dua mata pisau, hal ini melahirkan hal positif dan juga negatif. Fakta dan berita bohong bertebaran dan berkelindan di semesta yang sama.

Seiring dengan hal itu, kini tren media digital di Indonesia turut mengalami perubahan. Hal ini ditandai dengan kelahiran media-media daring alternatif yang mendobrak pakem lama media daring arus utama.

Dengan semangat dan ideologi khas kaum milenial, media-media ini muncul dengan gayanya masing-masing. Alih-alih mengikuti pasar, mereka tak segan untuk menciptakan pasar yang baru.

Lalu, apa kira-kira yang akan terjadi dengan dunia jurnalisme kita di tahun 2038 nanti? Apa yang terjadi jika Indonesia benar-benar bubar pada 2030? Bagaimana cara memilah mana yang fakta dan mana yang hoaks? Apakah bumi itu bulat atau datar?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, kami bermaksud menggelar diskusi KOPI DAN MANUSIA #2 yang bertajuk PREDIKSI JURNALISME DIGITAL 2038.

Diskusi ini akan digelar di Kopi Tanya, Jl. Utan Kayu No. 73A Jakarta Timur, pada Minggu, 1 Juli 2018 jam 18:59 hingga selesai.

Dalam diskusi ini, kami akan menghadirkan Arlian Buana yang akan membagikan pengalamannya selama bergiat di sejumlah media digital di Indonesia.

Diskusi ini gratis dan terbuka untuk umum. Silakan datang, dan mari menikmati secangkir kopi sambil berbincang panjang.

Salam hangat,

TAREKAT KAFEINIYAH | KOPI TANYA
CP: Herri K. Sulam (+62 857 8235 6109)

======================================

Arlian Buana adalah seorang jurnalis sekaligus praktisi media digital. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi di mojok.co, serta Writer dan Socmed Manager di tirto.id. Saat ini menjadi Content Manager di geotimes.co.id. Sejumlah tulisannya diterbitkan di buku Jihadis Jengkol dan Catatan Lainnya (EA Books, 2018).





Cc: Remotivi

Address

Jalan Utan Kayu 73A
Jakarta
13130

Opening Hours

Monday 18:00 - 12:00
Tuesday 18:00 - 12:00
Wednesday 18:00 - 12:00
Thursday 18:00 - 12:00
Friday 18:00 - 12:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kopi Tanya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category