04/02/2026
Sering menjumpai pertanyaan tersebut diajukan untuk memulai pembicaraan? You’re not alone, lah. Tetapi apakah pertanyaan tersebut semata-mata basa-basi yang tidak diperkatakan dengan intensi mengetahui keadaan kita? Belum tentu.
Jika kita membisikkan pertanyaan tersebut pada diri sendiri? Apa iya, kita tidak berkepentingan untuk mengetahui keadaan atau kabar diri?
Bisa jadi kita cukup “keras” menjaga standard pengevaluasian diri perihal apakah hari ini kita lalui dalam keberhasilan. The thing is, sepertinya diri kita terus berubah setiap hari. Sehingga untuk “kaku” mempertahankan standard yang persis sama di setiap harinya, belum tentu merupakan hal yang aplikatif. Terlebih, hal yang kita rindukan untuk terjawab adalah kabar diri kita. Keadaan diri kita.
Selain mendapati sehat pada tubuh fisik, apa lagi yang kita rasa akan membawa kita merasa tubuh kita tenang? Membawa tubuh merasa tidak mules, tidak deg-degan, tidak menggumamkan gerutu, tidak merasa perlu “kabur” dari sesuatu? Tubuh kita mungkin menyampaikan indikator perihal kabar kita. Namun mungkin kita juga bisa melangkah sedikit lebih jauh dan menyimak nada batin kita dalam merespon serta menghadiri banyak momen-momen dalam satu hari. Bisa jadi batin membalas bisikan pertanyaan “apa kabar” dengan bisikan halus juga bahwa “hari ini cukup dan utuh. hari ini baik. hari ini kamu baik. hari ini kamu berhasil melalui dan hadir di momen-momen dengan baik”