01/06/2026
Kutipan Latin itu—margaritas ante porcos—“memberi mutiara pada babi”, mengandung ironi epistemologis yang dalam. Dalam tafsir yang sering diulang oleh Rocky Gerung, masalahnya bukan pada mutiaranya, melainkan pada kapasitas untuk mengenali nilai.
Mutiara adalah argumen. Ia lahir dari proses panjang: riset, pembacaan, perenungan. Tetapi ketika argumen itu dilempar ke ruang yang tak memiliki prasyarat nalar, ia berhenti sebagai pengetahuan dan berubah menjadi gangguan. Di situ, percakapan tak lagi soal benar atau salah, melainkan soal siapa yang paling keras bersuara.
Demokrasi memang membuka ruang bagi semua orang untuk berbicara. Namun demokrasi tak pernah menjamin semua orang siap berpikir. Ketika kritik dijawab dengan sentimen, dan data ditimpali dengan umpatan, kita sedang menyaksikan tragedi nalar. Bukan karena kebenaran tak ada, melainkan karena ia tak dikenali.
Peribahasa itu bukan ajakan untuk merendahkan, melainkan peringatan tentang konteks. Nasehat membutuhkan telinga yang bersedia. Tanpa itu, rasionalitas hanya akan dianggap provokasi. Maka tugas intelektual bukan sekadar memproduksi mutiara, tetapi juga membangun ekosistem akal sehat—agar publik tak alergi pada argumen.
Kalau tidak, kita akan terus sibuk melempar mutiara, sambil lupa bahwa yang harus diperjuangkan pertama-tama adalah kemampuan membedakan mana nilai dan mana sekadar bunyi.
Salam Kato