10/11/2012
Giri Kedaton Giri Kedaton adalah sebuah “kerajaan” agama Islam di daerah Gresik, Jawa Timur sekitar abad ke-15 sampai 17.
Kerajaan ini pernah berjaya
sebagai pusat agama Islam yang
pengaruhnya bahkan sampai
menyebar ke daerah Maluku . Awal Berdirinya Giri Kedaton didirikan oleh Raden Paku , seorang anggota Walisongo tahun 1487. Suatu ketika dikisahkan, Raden Paku
pergi menemui ayahnya yang
menjadi ulama di Pasai, bernama Maulana Ishak.
Ayahnya itu menyuruhnya
untuk membangun sebuah pondok pesantren di daerah Gresik. Raden Paku menemukan tanah
yang mirip dengan tempat
tinggal ayahnya. Tanah
tersebut terletak di Bukit Giri
(sekarang masuk kecamatan Kebomas, Gresik ). Di atas bukit itu didirikan sebuah pesantren
bernama Giri Kedaton. Raden
Paku sebagai pemimpin
bergelar Prabu Satmata, atau Sunan Giri I . Perkembangan Meskipun hanya sekolah
agama, namun murid-
murid Giri Kedaton
berdatangan dari segala
penjuru, bahkan dari Ternate . Murid-murid Giri Kedaton ini
tidak hanya kalangan rakyat
kecil, namun juga para
pangeran dan bangsawan. Kerajaan Majapahit yang sudah rapuh merasa khawatir melihat
perkembangan Giri Kedaton.
Para pangeran yang telah
menamatkan pendidikan
mereka setelah kembali ke
negeri masing-masing mengobarkan semangat baru
untuk lepas dari kekuasaan
Majapahit. Daerah kekuasaan
Majapahit memang semakin
berkurang sejak meletusnya Perang Paregreg tahun 1401– 1406. Dikisahkan p**a, Majapahit
menyuruh sekutunya yang
masih setia, yaitu Sengguruh,
untuk menyerang Giri. Pihak
Giri yang hanya terdiri dari para
santri tentu saja mengalami kekalahan. Pemimpinnya, yaitu
Sunan Dalem sampai
mengungsi ke desa Gumena. Puncak Kejayaan Giri Kedaton mengalami
puncak kejayaan di bawah
kepemimpinan Sunan Prapen
tahun 1548–1605. Saat itu Giri tidak hanya sekadar sekolah
agama, namun juga menjadi
“kerajaan” yang meiliki
kekuatan politik. Misalnya, Sunan Prapen
dikisahkan menjadi pelantik Sultan Adiwijaya raja Pajang . Ia juga menjadi mediator
pertemuan antara Adiwijaya
dengan para bupati Jawa Timur tahun 1568. Dalam pertemuan itu, para bupati Jawa Timur
sepakat mengakui kekuasaan
Pajang sebagai kelanjutan Kesultanan Demak Sunan Prapen juga menjadi juru
damai peperangan antara Panembahan Senopati raja Mataram melawan Jayalengkara bupati Surabaya tahun 1588. Peperangan itu dilatarbelakangi oleh
penolakan para bupati Jawa
Timur terhadap kekuasaan
Senopati yang telah
meruntuhkan Kesultanan Pajang . Tidak hanya itu, Sunan Prapen
hampir selalu menjadi pelantik
setiap ada raja Islam yang naik
takhta di segenap penjuru Nusantara . Dikalahkan Mataram Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung menghendaki agar Giri Kedaton
tunduk sebagai daerah
bawahan. Pada tahun 1630 Giri Kedaton di bawah pimpinan
Sunan Kawis Guwa menolak
kekuasan Mataram. Tidak seorang pun perwira
Mataram yang berani
menghadapi Giri. Rupanya
mereka masih takut akan
kekeramatan Walisongo meskipun dewan tersebut sudah
tidak ada lagi. Sultan Agung pun menunjuk
iparnya, yaitu Pangeran Pekik putra Jayalengkara dari Surabaya untuk menghadapi Giri. Semangat pasukan
Mataram bangkit karena
Pangeran Pekik merupakan
keturunan Sunan Ampel , sementara Sunan Kawis Guwa
adalah keturunan Sunan Giri I , di mana Sunan Giri I adalah
murid Sunan Ampel. Perang akhirnya dimenangkan
oleh pihak Mataram di mana
Giri Kedaton takluk sekitar
tahun 1636. Sunan Kawis Guwa dipersilakan untuk tetap
memimpin Giri dengan syarat
harus tunduk kepada Mataram. Sejak saat itu wibawa Giri
Kedaton pun memudar.
Pengganti Sunan Kawis Guwa
tidak lagi bergelar Sunan Giri,
melainkan bergelar
Panembahan Ageng Giri. Gelar Panembahan dan Giri
memengaruhi penguasa Kerajaan Tanjungpura di Kalimantan Barat ketika
memeluk Islam menggunakan gelar Panembahan Giri
Kusuma. Keruntuhan Giri Kedaton yang sudah
menjadi bawahan Mataram
kemudian mendukung
pemberontakan Trunojoyo dari Madura terhadap pemerintahan Amangkurat I putra Sultan Agung. Panembahan Ageng Giri
aktif mencari dukungan untuk
memperkuat barisan
pemberontak. Puncak pemberontakan terjadi
tahun 1677 di mana Kesultanan Mataram mengalami keruntuhan. Amangkurat I
sendiri tewas dalam pelarian.
Putranya yang bergelar Amangkurat II bersekutu dengan VOC melancarkan aksi pembalasan. Amangkurat II yang menjadi
raja tanpa takhta berhasil
menghancurkan
pemberontakan Trunojoyo
akhir tahun 1679. Sekutu Trunojoyo yang bertahan
paling akhir adalah Giri
Kedaton. Pada bulan April 1680 serangan besar-besaran
terhadap Giri dilancarkan oleh VOC–Belanda . Murid andalan Giri yang menjadi panglima
para santri bernama Pangeran
Singosari gugur dalam
peperangan. Panembahan Ageng Giri
ditangkap dan dihukum mati
menggunakan cambuk. Tidak
hanya itu, anggota keluarganya
juga dimusnahkan. Sejak saat
itu berakhirlah riwayat Giri Kedaton. Daftar Para Penguasa Berikut ini adalah daftar para
pemimpin Giri Kedaton. 1. Sunan Giri I atau Prabu Satmata atau Raden Paku
(1487–1506) 2. Sunan Dalem atau Sunan Kedul atau Sunan Giri II ( 1487– 1546) 3. Sunan Seda ing Margi atau Sunan Giri III ( 1546–1548) 4. Sunan Prapen atau Sunan Mas Ratu Pratikal atau Sunan
Giri IV (1548–1605) 5. Sunan Kawis Guwa atau Sunan Giri V ( 1605–?) 6. Panembahan Ageng Giri (?– 1680) 7. Panembahan Mas Witana Sideng Rana Kepustakaan Abu Khalid. Kisah Walisongo. Surabaya: Terbit Terang Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647.
(terj.). 2007. Yogyakarta:
Narasi H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama
di Jawa. Terj. Jakarta: Grafiti M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.).
Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press Sartono Kartodirdjo. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia
Baru 1500 – 1900, dari
Emporium sampai Imperium
Jilid 1. Jakarta: Gramedia