24/06/2026
Info terkini
DUIT SAYEMBARA RP 250 JUTA UNTUK SIAPA? Mantan Atasan Taufiq Hidayat Tolak Hadiah KDM, Desak Kasih Langsung ke Korban Penyekapan!
Geger sayembara bernilai fantastis Rp 250 juta yang dijanjikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), untuk penangkapan monster penyekap perempuan, Taufiq Hidayat (TH), akhirnya menemukan muaranya. Setelah pelarian pelaku berhasil dihentikan oleh kepolisian di Ciparay, Kabupaten Bandung, sorotan kini tertuju pada siapa yang berhak mengantongi uang ratusan juta tersebut.
Secara mengejutkan dan mencerahkan, Dadang Ahyar Ismail (53), mantan atasan tersangka TH yang ikut berperan dalam mengondisikan penangkapan pelaku, memberikan respons menohok! Alih-alih tergiur menguasai uang hadiah tersebut untuk diri sendiri, Dadang dengan tegas menolak dan meminta agar uang sayembara itu dialokasikan seluruhnya untuk memulihkan masa depan korban yang hancur.
"Saya Ngeri, Serahkan Langsung ke Korban!"
Saat ditemui di kediamannya di Kecamatan Ciparay, Rabu (24/6), Dadang mengaku baru mengetahui kabar sayembara jumbo itu dari sang istri. Tanpa ragu, ia meminta Kang Dedi Mulyadi untuk langsung menyerahkan dana tersebut kepada korban tanpa melalui perantara mana pun.
"Kalau memang itu benar ada statement kalau ada yang menyerahkan tersangka dikasih Rp 250 juta, alhamdulillah akan saya terima dan akan saya kasihkan ke korban. Atau Pak KDM kasihkan saja langsung ke korban, soalnya lebih membutuhkan. Seumur hidup saya ngeri, semoga cepat sembuh. Saya lihatnya enggak tega," tutur Dadang dengan nada prihatin.
Korban Butuh Pemulihan Total, Bukan Sekadar Janji
Sikap berkelas dari mantan atasan pelaku ini langsung memancing simpati sekaligus memprovokasi publik. Korban penyekapan sadis ini tidak hanya mengalami luka fisik yang mengerikan, melainkan juga trauma psikologis mendalam yang membutuhkan biaya pemulihan tidak sedikit.
Kini publik menagih konsistensi dan realisasi dari statement sayembara tersebut. Apakah uang Rp 250 juta itu akan benar-benar mendarat mulus di tangan korban sebagai modal menyambung hidup, atau justru tertahan oleh birokrasi hadiah?
Bagaimana opini Anda? Setujukah Anda jika uang sayembara penangkapan penjahat langsung dialihkan untuk biaya kompensasi dan pengobatan korban?