08/11/2015
ﻪ ﻋﻠﻰ ﻛﺎﺋﻦ ﻛﻞ ﻣﻦ ﻧﺼﺐ اﻟﺬي ﻟﻠﻪ اﻟﺤﻤﺪ و , ﺳﻠﻄﺎﻧﺎ و ﻋﺰا ﺷﺎء ﻛﻤﺎ ﺧﻠﻴﻘﺘﻪ ﻗﻲ ﺗﺼﺮف و , ﺑﺮﻫﺎﻧﺎ و اﻟﺼﻼة و . وﻏﻔﺮاﻧﺎ ﻋﻔﻮا رﺣﻤﺘﻪ و ﺑﺤﻤﻠﻪ اﻟﻤﺬﻧﺒﻴﻦ ﻋﻢ ﺑﻌﺪ و . آﻟﻪ ﻋﺒﻠﻰ و ﻣﺤﻤﺪ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻼم .
Musim kemarau berlalu, berganti dengan musim penghujan. Suatu hal yang patut disyukuri karena Allah ta’ala masih menurunkan rahmat-Nya kepada kita mengingat dosa-dosa anak Adam sedemikian derasnya terjadi saat ini, sehingga jika kita mau memperhatikan, hampir seluruh dosa umat-umat terdahulu telah dilakukan oleh umat manusia pada saat ini.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kemarau akan menimpa suatu kaum yang bermaksiat kepada Allah, sedangkan hujan yang diturunkan kepada mereka merupakan rahmat Allah ta’ala kepada hewan ternak. Asy Syaukani dalam Nailul Authar 4/26 mengatakan, إﻧﱠﻤَﺎ إﻧﱠﻤَﺎ اﻟْﻤَﻌَﺎﺻِﻲ اﻟْﻤَﻌَﺎﺻِﻲ ِ ِ وُﻗُﻮع وُﻗُﻮع َ َ ﻋِﻨْﺪ ﻋِﻨْﺪ ِ ِ اﻟْﻐَﻴْﺚ اﻟْﻐَﻴْﺚ َ َ ﻧُﺰُول ﻧُﺰُول َّ َّ أَن أَن ﻟِﻠْﺒَﻬَﺎﺋِﻢِ ﻟِﻠْﺒَﻬَﺎﺋِﻢِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ِ ِ اﻟﻠﱠﻪ اﻟﻠﱠﻪ ْ ْ ﻣِﻦ ﻣِﻦ ٌ ٌ رَﺣْﻤَﺔ رَﺣْﻤَﺔ َ َ ﻫُﻮ ﻫُﻮ
“Sesungguhnya turunnya hujan tatkala maksiat tersebar hanyalah rahmat dari Allah ta’ala kepada hewan ternak”. Akankah kita mau berpikir?
Terkait dengan hujan, seorang muslim selayaknya mengetahui berbagai adab yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hujan turun. Beliau telah memberikan teladan kepada umatnya dalam seluruh perkara, tidak terkecuali dalam permasalahan ini. Bahkan setiap muslim patut mengetahui berbagai tuntunan syari’at dalam setiap perkara agar mampu mengamalkannya, sehingga pahala akan senantiasa mengalir kepada dirinya. Oleh karena itu, melalui artikel ini, kami berusaha untuk memaparkan berbagai adab yang dituntunkan ketika Allah menurunkan hujan-Nya ke permukaan bumi. Semoga Allah menjadikan amalan ini bermanfaat bagi diri kami pribadi dan kaum muslimin,
Pertama, takut dan khawatir terhadap siksa Allah
Ummul Mukminin ‘Aisyah radliallahu ‘anha pernah berkata, وﺳﻠﻢ وﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﷲ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺻﻠﻰ ﷲ ﷲ رﺳﻮل رﺳﻮل رأﻳﺖ رأﻳﺖ ﻣﺎ ﻣﺎ ﻟﻬﻮاﺗﻪ ﻟﻬﻮاﺗﻪ ﻣﻨﻪ ﻣﻨﻪ أرى أرى ﺣﺘﻰ ﺣﺘﻰ ﺿﺎﺣﻜﺎ ﺿﺎﺣﻜﺎ ﻣﺴﺘﺠﻤﻌﺎ ﻣﺴﺘﺠﻤﻌﺎ ﻏﻴﻤﺎ ﻏﻴﻤﺎ رأى رأى إذا إذا وﻛﺎن وﻛﺎن ﻗﺎﻟﺖ ﻗﺎﻟﺖ ﻳﺒﺘﺴﻢ ﻳﺒﺘﺴﻢ ﻛﺎن ﻛﺎن إﻧﻤﺎ إﻧﻤﺎ ﻳﺎ ﻳﺎ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻓﻘﺎﻟﺖ وﺟﻬﻪ وﺟﻬﻪ ﻓﻲ ﻓﻲ ذﻟﻚ ذﻟﻚ ﻋﺮف ﻋﺮف رﻳﺤﺎ رﻳﺤﺎ أو أو اﻟﻐﻴﻢ اﻟﻐﻴﻢ رأوا رأوا إذا إذا اﻟﻨﺎس اﻟﻨﺎس أرى أرى ﷲ ﷲ رﺳﻮل رﺳﻮل وأراك وأراك اﻟﻤﻄﺮ اﻟﻤﻄﺮ ﻓﻴﻪ ﻓﻴﻪ ﻳﻜﻮن ﻳﻜﻮن أن أن رﺟﺎء رﺟﺎء ﻓﺮﺣﻮا ﻓﺮﺣﻮا ؟ ؟ اﻟﻜﺮاﻫﻴﺔ اﻟﻜﺮاﻫﻴﺔ وﺟﻬﻚ وﺟﻬﻚ ﻓﻲ ﻓﻲ ﻋﺮﻓﺖ ﻋﺮﻓﺖ رأﻳﺘﻪ رأﻳﺘﻪ إذا إذا ﻳﻜﻮن ﻳﻜﻮن أن أن ﻳﺆﻣﻨﻨﻲ ﻳﺆﻣﻨﻨﻲ ﻣﺎ ﻣﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻳﺎ ﻳﺎ ﻓﻘﺎل ﻓﻘﺎل ﻗﺎﻟﺖ ﻗﺎﻟﺖ رأى رأى وﻗﺪ وﻗﺪ ﺑﺎﻟﺮﻳﺢ ﺑﺎﻟﺮﻳﺢ ﻗﻮم ﻗﻮم ﻋﺬب ﻋﺬب ﻗﺪ ﻗﺪ ﻋﺬاب ﻋﺬاب ﻓﻴﻪ ﻓﻴﻪ ﻣﻤﻄﺮن ﻣﻤﻄﺮن ﻋﺎرض ﻋﺎرض ﻫﺬا ﻫﺬا ﻓﻘﺎﻟﻮا ﻓﻘﺎﻟﻮا اﻟﻌﺬاب اﻟﻌﺬاب ﻗﻮم ﻗﻮم
“Aku tidak pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat lidahnya, beliau hanya tersenyum. Apabila beliau melihat awan mendung dan mendengar angin kencang, maka wajah beliau akan segera berubah. ‘Aisyah berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai rasulullah aku memperhatikan apabila manusia melihat awan mendung, maka mereka bergembira karena mengharap hujan akan turun. Namun, aku memperhatikan dirimu, jika mendung datang, kegelisahan nampak di wajahmu? ‘Aisyah berkata, “Maka rasulullah pun menjawab, “Wahai ‘Aisyah tidak ada yang dapat menjaminku, bahwa awan tersebut mengandung adzab. Sungguh suatu kaum telah diadzab dengan angina kencang sedangkan mereka mengatakan, “Inilah awan yang akan mengirimkan hujan kepada kami” (Al Ahqaaf: 24)” (HR. Muslim nomor 899).
An Nawawi rahimahullah mengatakan, واﻻﻟﺘﺠﺎء واﻻﻟﺘﺠﺎء ﻟﻠﻪ ﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﻤﺮاﻗﺒﺔ ﺑﺎﻟﻤﺮاﻗﺒﺔ اﻻﺳﺘﻌﺪاد اﻻﺳﺘﻌﺪاد ﻓﻴﻪ ﻓﻴﻪ ﻣﺎ ﻣﺎ وﺣﺪوث وﺣﺪوث اﻷﺣﻮال اﻷﺣﻮال اﺧﺘﻼف اﺧﺘﻼف ﻋﻨﺪ ﻋﻨﺪ إﻟﻴﻪ إﻟﻴﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﷲ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺻﻠﻰ ﺧﻮﻓﻪ ﺧﻮﻓﻪ وﻛﺎن وﻛﺎن ﺑﺴﺒﺒﻪ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻳﺨﺎف ﻳﺨﺎف اﻟﻌﺼﺎة اﻟﻌﺼﺎة ﺑﻌﺼﻴﺎن ﺑﻌﺼﻴﺎن ﻳﻌﺎﻗﺒﻮا ﻳﻌﺎﻗﺒﻮا أن أن وﺳﻠﻢ وﺳﻠﻢ اﻟﺨﻮف اﻟﺨﻮف ﺳﺒﺐ ﺳﺒﺐ ﻟﺰوال ﻟﺰوال وﺳﺮوره وﺳﺮوره
“Dalam hadits ini terkandung anjuran untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan berlindung pada-Nya tatkala terjadi perubahan cuaca dan nampak penyebab sesuatu yang ditakutkan. Rasa takut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut karena khawatir umat beliau akan diadzab dengan sebab kemaksiatan yang dilakukan oleh para pelaku maksiat dan beliau akan kembali gembira ketika sebab yang menimbulkan ketakutan telah berlalu (dalam hal ini awan mendung dan angin kencang-pent)” (Syarh Shahih Muslim 6/196).
Kedua, berdo’a ketika turun hujan
Apabila hujan turun maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdo’a. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat hujan, maka beliau berdo’a dengan lafadz, ﻧَﺎﻓِﻌًﺎ ﻧَﺎﻓِﻌًﺎ ﺻَﻴﱢﺒًﺎ ﺻَﻴﱢﺒًﺎ َّ َّ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ
“Ya Allah, turunkanlah hujan yang baik dan bermanfaat” (HR. Bukhari nomor 1032).
Dalam al Umm (1/223-224) imam Asy Syafi’i menyebutkan sebuah hadits mursal, bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اﻟﺘﻘﺎءِ اﻟﺘﻘﺎءِ َ َ ﻋِﻨْﺪ ﻋِﻨْﺪ ِ ِ اﻟﺪﱡﻋﺎء اﻟﺪﱡﻋﺎء َ َ اﺳْﺘِﺠﺎﺑَﺔ اﺳْﺘِﺠﺎﺑَﺔ اﻃْﻠُﺒُﻮا اﻃْﻠُﺒُﻮا اﻟﻐَﻴْﺚِ اﻟﻐَﻴْﺚِ ِ ِ وَﻧُﺰُول وَﻧُﺰُول ِ ِ اﻟﺼﱠﻼة اﻟﺼﱠﻼة ِ ِ وَإﻗﺎﻣَﺔ وَإﻗﺎﻣَﺔ ِ ِ اﻟﺠُﻴُﻮش اﻟﺠُﻴُﻮش
“Bergegaslah berdo’a di waktu yang mustajab, yaitu ketika bertemunya dua pas**an di medan pertempuran, ketika shalat hendak dilaksanakan, dan turunnya hujan.”
Imam Ibnul Qayyim juga menyebutkan hal ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad (1/439).
Ketiga, memperbanyak rasa syukur kepada Allah
Bumi yang semula tandus akan kembali subur ketika hujan membasahinya, hal ini merupakan salah satu nikmat Allah yang diturunkan kepada para hamba-Nya dan patut disyukuri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, وَﻣَﻦْ وَﻣَﻦْ ِ ِ ﻟِﻠﱠﻪ ﻟِﻠﱠﻪ ْ ْ اﺷْﻜُﺮ اﺷْﻜُﺮ ِ ِ أَن أَن َ َ اﻟْﺤِﻜْﻤَﺔ اﻟْﺤِﻜْﻤَﺔ َ َ ﻟُﻘْﻤَﺎن ﻟُﻘْﻤَﺎن آﺗَﻴْﻨَﺎ آﺗَﻴْﻨَﺎ ْ ْ وَﻟَﻘَﺪ وَﻟَﻘَﺪ ﻓَﺈِنﱠ ﻓَﺈِنﱠ َ َ ﻛَﻔَﺮ ﻛَﻔَﺮ ْ ْ وَﻣَﻦ وَﻣَﻦ ِ ِ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪ ُ ُ ﻳَﺸْﻜُﺮ ﻳَﺸْﻜُﺮ ﻓَﺈِﻧﱠﻤَﺎ ﻓَﺈِﻧﱠﻤَﺎ ْ ْ ﻳَﺸْﻜُﺮ ﻳَﺸْﻜُﺮ ١٢ ١٢ ٌ ) ٌ ) ﺣَﻤِﻴﺪ ﺣَﻤِﻴﺪ ٌّ ٌّ ﻏَﻨِﻲ ﻏَﻨِﻲ َ َ اﻟﻠﱠﻪ اﻟﻠﱠﻪ ) )
“Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji” (Luqman: 12).
Imam An Nawawi dalam Al Adzkar (1/182) berkata, وﺗﻌﺎﻟﻰ وﺗﻌﺎﻟﻰ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﷲ ﷲ ﻳﺸﻜﺮ ﻳﺸﻜﺮ أن أن وﻳﺴﺘﺤﺐ وﻳﺴﺘﺤﺐ اﻟﻤﻄﺮ اﻟﻤﻄﺮ ﻧﺰول ﻧﺰول أﻋﻨﻲ أﻋﻨﻲ ، ، اﻟﻨﻌﻤﺔ اﻟﻨﻌﻤﺔ ﻫﺬه ﻫﺬه ﻋﻠﻰ ﻋﻠﻰ . .
“Dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat ini, yaitu nikmat diturunkannya hujan.”
Keempat, mengguyur sebagian badan dengan air hujan
Dari Anas radliallahu ‘anhu, dia berkata, ﷲ ﷲ ﺻﻠّﻰ ﺻﻠّﻰ ﷲ ﷲ رﺳﻮل رﺳﻮل ﻣﻊ ﻣﻊ وﻧﺤﻦ وﻧﺤﻦ أﺻﺎﺑﻨﺎ أﺻﺎﺑﻨﺎ ﷲ ﷲ رﺳﻮل رﺳﻮل ﻓﺤﺴﺮ ﻓﺤﺴﺮ : : ﻗﺎل ﻗﺎل ، ، ﻣﻄﺮ ﻣﻄﺮ وﺳﻠّﻢ وﺳﻠّﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻴﻪ أﺻﺎﺑﻪ أﺻﺎﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﺣﺘﻰ ﺛﻮﺑﻪ ﺛﻮﺑﻪ وﺳﻠّﻢ وﺳﻠّﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﷲ ﷲ ﺻﻠّﻰ ﺻﻠّﻰ ﺻﻨﻌﺖ ﺻﻨﻌﺖ ﻟﻢ ﻟﻢ ﷲ ﷲ رﺳﻮل رﺳﻮل ﻳﺎ ﻳﺎ ﻓﻘﻠﻨﺎ ﻓﻘﻠﻨﺎ ، ، اﻟﻤﻄﺮ اﻟﻤﻄﺮ ﻣﻦ ﻣﻦ ﺑﺮﺑﻪ ﺑﺮﺑﻪ ﻋﻬﺪ ﻋﻬﺪ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺪﻳﺚ ﻷﻧﻪ ﻷﻧﻪ “ “ : : ﻗﺎل ﻗﺎل ؟ ؟ ﻫﺬا ﻫﺬا
“Hujan mengguyur kami beserta rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap sebagian bajunya sehingga hujan membasahi sebagian tubuhnya. Kami bertanya kepada beliau, “Wahai rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu? Beliau menjawab, “Aku melakukannya karena hujan tersebut adalah rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah” (HR. Muslim nomor 898).
An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 6/196 mengatakan, رﺑﻪ رﺑﻪ ﺑﺘﻜﻮﻳﻦ ﺑﺘﻜﻮﻳﻦ أي أي ﺑﺮﺑﻪ ﺑﺮﺑﻪ ﻋﻬﺪ ﻋﻬﺪ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻌﻨﻰ ﻣﻌﻨﻰ ﻗﺮﻳﺒﺔ ﻗﺮﻳﺒﺔ وﻫﻲ وﻫﻲ رﺣﻤﺔ رﺣﻤﺔ اﻟﻤﻄﺮ اﻟﻤﻄﺮ أن أن وﻣﻌﻨﺎه وﻣﻌﻨﺎه اﻳﺎه اﻳﺎه وﻓﻲ وﻓﻲ ﺑﻬﺎ ﺑﻬﺎ ﻓﻴﺘﺒﺮك ﻓﻴﺘﺒﺮك ﻟﻬﺎ ﻟﻬﺎ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﷲ ﷲ ﺑﺨﻠﻖ ﺑﺨﻠﻖ اﻟﻌﻬﺪ اﻟﻌﻬﺪ أﻧﻪ أﻧﻪ أﺻﺤﺎﺑﻨﺎ أﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻟﻘﻮل ﻟﻘﻮل دﻟﻴﻞ دﻟﻴﻞ اﻟﺤﺪﻳﺚ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻫﺬا ﻫﺬا ﻏﻴﺮ ﻏﻴﺮ ﻳﻜﺸﻒ ﻳﻜﺸﻒ أن أن اﻟﻤﻄﺮ اﻟﻤﻄﺮ أول أول ﻋﻨﺪ ﻋﻨﺪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻴﻨﺎﻟﻪ ﻟﻴﻨﺎﻟﻪ ﻋﻮرﺗﻪ ﻋﻮرﺗﻪ
“Makna dari ucapan beliau ‘ ﺑﺮﺑﻪ ﻋﻬﺪ ﺣﺪﻳﺚ ’ adalah hujan ini semata-mata dibentuk oleh Rabb-nya, maksudnya adalah hujan tersebut adalah rahmat yang baru saja diciptakan Allah ta’ala, maka beliau bertabarruk dengannya. Hadits ini merupakan dalil bagi pendapat rekan-rekan kami (para ulama bermazhab Syafii, ed) yang menyatakan bahwa dianjurkan menyingkap bagian tubuh selain aurat ketika permulaan hujan agar hujan mengguyur tubuhnya.”
Muhammad bin Abu Bakr Az Zur’i juga menyebutkan hal yang senada dalam kitabnya Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khairil ‘Ibad (1/439).
Kelima, berdzikir setelah turunnya hujan
Hal ini berdasarkan kandungan yang tersirat dalam hadits Zaid bin Khalid Al Jahni radliallahu ‘anhu , beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَرَﺣْﻤَﺘِﻪِ وَرَﺣْﻤَﺘِﻪِ ِ ِ ﷲ ﷲ ِ ِ ﺑِﻔَﻀْﻞ ﺑِﻔَﻀْﻞ ﻣُﻄِﺮْﻧَﺎ ﻣُﻄِﺮْﻧَﺎ
“Hujan diturunkan kepada kami dengan karunia dan rahmat-Nya” (HR. Bukhari nomor 1038, Muslim nomor 71).
Keenam, berdo’a agar cuaca dicerahkan kembali
Apabila hujan turun dengan derasnya dan dikhawatirkan membawa mudharat, maka kita dianjurkan untuk berdo’a kepada Allah agar cuaca dicerahkan kembali, sebagaimana hadits Anas, dimana Rasulullah berdo’a dengan lafadz,
ِ، ِ، اْﻵﻛَﺎم اْﻵﻛَﺎم ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻠَﻰ َّ َّ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ ، ، ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ َ َ وَﻻ وَﻻ ﺣَﻮَاﻟِﻴْﻨَﺎ ﺣَﻮَاﻟِﻴْﻨَﺎ َّ َّ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ ِ، ِ، اْﻷَوْدِﻳَﺔ اْﻷَوْدِﻳَﺔ ِ ِ وَﺑُﻄُﻮْن وَﺑُﻄُﻮْن ِ، ِ، وَاْﻟﻈَﺮَاب وَاْﻟﻈَﺮَاب ِ، ِ، وَاﻟﺠِْﺒَﺎل وَاﻟﺠِْﺒَﺎل اﻟﺸﱠﺠَﺮِ اﻟﺸﱠﺠَﺮِ ِ ِ وَﻣَﻨَﺎﺑِﺖ وَﻣَﻨَﺎﺑِﺖ
“Ya Allah turunkanlah hujan di daerah sekitar kami, bukan di daerah kami. Turunkanlah hujan di perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan” (HR. Bukhari nomor 933, Muslim nomor 897).
Ketujuh, berdo’a ketika mendengar petir
Dari Abdullah ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendengar suara petir, maka beliau berujar,
َ، َ، ﺑَﻌَﺬَاﺑِﻚ ﺑَﻌَﺬَاﺑِﻚ ﺗُﻬْﻠِﻜُﻨَﺎ ﺗُﻬْﻠِﻜُﻨَﺎ َ َ وَﻻ وَﻻ َ، َ، ﺑِﻐَﻀَﺒِﻚ ﺑِﻐَﻀَﺒِﻚ ﺗَﻘْﺘُﻠْﻨَﺎ ﺗَﻘْﺘُﻠْﻨَﺎ َ َ ﻻ ﻻ َّ َّ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ اَﻟﻠﱠﻬُﻢ ذَﻟِﻚَ ذَﻟِﻚَ َ َ ﻗَﺒْﻞ ﻗَﺒْﻞ وَﻋَﺎﻓِﻨَﺎ وَﻋَﺎﻓِﻨَﺎ
“Ya Allah, janganlah Engkau hancurkan kami dengan kemarahan-Mu dan janganlah Engkau binasakan kami dengan adzab-Mu, selamatkanlah diri kami sebelum hal tersebut terjadi” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad nomor 721, Tirmidzi nomor 3450, Hakim 4/286, beliau mengatakan, “Shahihul Isnad dan keduanya (Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya) dan hal ini disetujui oleh Adz Dzahabi”. Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth dalam takhrij beliau terhadap Al Adzkar hal. 262 mengatakan isnad hadits ini lemah, namun memiliki syahid yang dapat menguatkannya.).
Dari Abdullah ibnuz Zubair radliallahu ‘anhu dengan status mauquf, bahwasanya beliau tatkala mendengar petir berdo’a dengan do’a berikut,
ِ، ِ، ﺑِﺤَﻤُﺪِه ﺑِﺤَﻤُﺪِه ُ ُ اﻟﺮﱠﻋْﺪ اﻟﺮﱠﻋْﺪ ُ ُ ﻳُﺴَﺒﱢﺢ ﻳُﺴَﺒﱢﺢ اﻟﱠﺬِي اﻟﱠﺬِي َ َ ﺳُﺒْﺤَﺎن ﺳُﺒْﺤَﺎن ﺧِﻴْﻔَﺘِﻪِ ﺧِﻴْﻔَﺘِﻪِ ْ ْ ﻣِﻦ ﻣِﻦ ُ ُ وَاْﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔ وَاْﻟﻤَﻼَﺋِﻜَﺔ
“Mahasuci Allah, dimana petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan juga malaikat karena takut akan kemarahan-Nya” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad nomor 723; Malik nomor 1801; Ibnu Abi Syaibah nomor 29214, 29216 dengan sanad yang shahih).
Demikan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita mampu melewati musim penghujan ini dengan meraup pahala. و و آﻟﻪ آﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﻠﻰ و و ﻣﺤﻤﺪ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﷲ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺻﻠﻰ و و اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺪﻳﻦ ﻳﻮم ﻳﻮم إﻟﻰ إﻟﻰ ﺗﺒﻌﻬﻢ ﺗﺒﻌﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﻦ و و ﺻ