10/05/2015
Bedanya Kopi Aceh dengan Jakarta
Hampir semua orang di dunia ini, tau dan kenal yang namanya kopi. Mau tidak mau, s**a tidak s**a, saya kira semua orang di dunia ini mengenalnya. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai teman akrab, dan sebagian yang lain biasa saja. Tidak jarang p**a menjadi musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, bagaimanapun yang namanya kopi tetap dikenal.
Di Indonesia, kopi menjadi minuman favorit banyak suku. Apalagi tanaman kopi bisa hidup di banyak tempat dengan “mudah”. Sehingga kita sering dengar istilah “petani kopi” yang berarti sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen dan mengolahnya. Kondisi ini p**a yang selanjutnya memunculkan personal-personal atau kelompok-kolompok pecinta kopi.
Salah satu suku bangsa yang “gila” kopi adalah orang Aceh. Bagi yang pernah datang ke Aceh, tentunya lebih tahu bagaimana kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat keseharian. Aceh menjadi ikon surganya penikmat dan pecinta kopi. Di Aceh, anda tidak perlu capek-capek bikin kopi sendiri. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi itu ada di mana-mana, sangat mudah mencarinya. Dari yang paling kecil hingga yang besar, dari pinggiran hingga pusat kota, tersebar merata. Kemudahan dan kenyamanan inilah yang membuat orang s**a nongkrong ber kongko ria berjam-jam di warung kopi, maka sangatlah layak juga jika Aceh disebut provinsi seribu warung kopi.
Suasana ini jauh berbeda dengan ibukota negara kita, Jakarta. Minum kopi dan nongkrong berlama-lama bukanlah sebuah budaya yang sering kita jumpai di Jakarta. Warung kopi sangat susah bisa diperoleh disini. Kalau pun ada itu pasti ditempat yang ekslusif dan mahal, memang tidak bisa dipungkiri, yang murah meriah memang ada, namun itu hanyalah kopi sachetan biasa yang rasanya terasa jauh berbeda dengan kopi yang diracik langsung.
Seperti kata pepatah “beda padang beda ilalang, beda lubuk beda ikannya”, antara Aceh dan Jakarta memiliki budaya minum dan warung kopi yang berbeda. Beberapa perbedaannya adalah sebagai berikut:
Aceh, biji kopi diolah secara tradisional. Di warung-warung kopi yang tersebar di Aceh, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring terlebih dahulu dengan kain khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Orang Aceh menyebut kopi ini dengan nama “Kupi Saréng”. Dan untuk menghasilkan rasa serta aroma kopi yang nikmat, baristanya Kupi Saréng memiliki cara tersendiri dalam menyaring kopi, bahkan membutuhkan kayu arang untuk mencipkatakan rasa kopi lebih nikmat. Hmmmm…
Berbeda lagi dengan Jakarta, pada umumnya kopi berbentuk sachet dan disajikan hanya dengan menggunakan air panas, juga tidak disaring, sehingga terkadang ampasnya menempel sedikit di gigi.
Kemudian berbicara soal warung kopi di Aceh, yang memiliki banyak warung kopi, ada dimana-mana, penuh dan rame pengunjung. Kalau anda masuk ke warung kopi di Aceh, anda akan mendengar suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, berdiskusi, dan bahkan temu kangen. Bukan itu saja, hampir semua warung kopi di Aceh memiliki fasilitas WiFi gratis, fasilitas ini mutlak harus dimiliki jika ingin warung kopinya tetap eksis. Kalau mau minum kopi dengan tenang dan senyap, memang bukan warung kopi tempatnya jika di Aceh, kecuali pada waktu tidak banyak orang dan waktu-waktu senggang.
Nah, suasana ini sangat berbeda dengan Jakarta. Warung kopi sangat jarang, jika pun ada biasa tempatnya sangat sempit, membuat orang tidak nyaman untuk duduk. Terkecuali kita nongkrong di warung-warung kopi berkelas seperti Starbuck dan beberapa lainnya, baru suasana yang ada di Aceh dapat kita rasakan, akan tetapi kita harus merogoh kantong lebih dalam untuk itu.
Namun kini anda jangan terlalu khawatir, telah ada tempat ngopi yang masih bisa dijangkau dengan kemampuan keuangan kita..
KUPI Saréng
Jl.Grand Galaxy Boulevard No.1 - Grand Galaxy City
Bekasi - Indonesia
Suasana ngopi yang nyaman, kongko bersama orang-orang tercinta, harga kopinya yang nikmat asli Aceh dan tidaklah semahal nong krong di Starbuck, membuat suasana ngopi di Kupi Saréng Grand Galaxy City lebih sempurna. Dengan harga rata-rata diatas Rp 8.000,- anda bisa mendapatkan segelas kopi saring asli Aceh dengan berbagai varian biji kopi. Ada biji kopi saring tradisional Aceh, bubuk kopi ulee kareng, Arabica, robusta dan bahkan luwak liar coffee juga ada disini, semua asli dari Aceh, termasuk baristanya Kupi Saréng juga asli dari Aceh. Suasana keAcehan sangat kental terasa. Dan tidak ketinggalan juga, anda bisa menikmati kenyamanan di warung Kupi Saréng ini dengan fasilitas WiFi seperti pada umumnya warung kopi di Aceh.
https://twitter.com/kopisareng
The latest Tweets from Kopi Saring (). Kuliner Asli Aceh; mie kepiting, teh tarik rempah, kopi saring arabica, robusta & kopi luwak liar original. Fresh milk, fresh juice, roti bakar khas dll