23/09/2016
Faham Liberalisme Dan Hubungannya Dengan Faham Nasionalisme di Asia-Afrika
Oleh : Anindya Merizka PS.
Sebagai seorang pelajar tentu kita tidak asing dengan kata “liberalisme” dan “nasionalisme” itu. Apa sih perbedaan dari liberalisme dan nasionalisme ? Mari Kita mulai dari arti terlebih dahulu. Arti singkat dari liberalisme adalah faham kebebasan sedangkan dari arti nasionalisme itu sendiri adalah faham kebangsaan. Liberalisme dan Nasionalisme merupakan bentuk atau pengklasifikasian suatu faham atau yang lebih kita kenal dengan nama lainnya, yakni ideologi. Faham ini bisa saja dianut hanya oleh satu individu, kelompok, atau juga suatu bangsa.
Faham liberalisme telah dimulai sejak masa renaisans sebagai upaya “pembebasan” dari dominasi gereja terhadap masyarakat eropa di kala itu. Dan juga upaya pembebasan dari campur tangan pemerintah terhadap keberlangsungan ekonomi. Ada beberapa tokoh yang diangggap sebagai pengembang faham liberalisme, yakni seperti John Locke dan juga Montesquieu. Seiring waktu berjalan, faham liberalisme juga ikut berkembang. Pada tahun 1215, Pemerintah Inggris mulai menerapkan faham liberalisme yang dituangkan ke dalam Magna Charta atau yang lebih kita tahu sebagai piagam Hak Asasi Manusia. Faham Liberalisme terus dipertahankan dan juga menghasilkan revolusi-revolusi besar seperti : Revolusi Industri (1688), Revolusi Amerika (1776), dan Revolusi Prancis (1789).
Sekarang mari kita berlanjut menuju faham nasionalisme. Faham Nasionalisme muncul karena adanya kecintaan kepada bangsa dan negara. Faham yang muncul karena memperjuangkan nasib yang sama. Faham yang muncul karena adanya keinginan untuk bersatu. Faham ini bermula dari Benua Eropa dan menyebar ke seluruh dunia. Berkat adanya Faham Nasionalisme, maka suatu bangsa memiliki suatu motivasi untuk mempertahankan bangsa dan juga negaranya.
Faham Liberalisme dan Faham Nasionalisme saling berhubungan pastinya. Karena keduanya memiliki keterkaitan yang tentunya tak terpisahkan. Dengan adanya faham liberalisme. Maka para Negara-negara di Asia-Afrika yang belum menganut faham apapun dan juga sebagian besar merupakan negara yang terjajah, semakin terpacu semangatnya untuk meraih kebebasan