Paris van Java Specialty Coffee

Paris van Java Specialty Coffee Coffee was planted in Priangan area, such as in Pengalengan, Garut, Gunung Halu, Ciwidey,and Garut. That’s perfect for coffee plantations.

Specialty Coffee Beans Of Indonesia
Paris van Java Specialty Coffee

address : Taman Cihanjuang Kav. 40
Kabupaten Bandung Barat
Jawa Barat
Indonesia We are a company engaged in Trading, Consultants Quality Control & Collateral Management Asset for Commodities and Franchise Paris van Java Specialty Coffee ( PT.KANIMA GROUPS)

Coffee Source

Arabica P

reanger West Java Coffee :
Arabica West Java: West Java is the earliest plantation area acquired by VOC ( Vereenigde Oostindische Compagnie ) in East Indies back in 18th century. The arabica coffee produced by this estate is grown at an altitude of 1,200 to 1,600 metres above sea level and is processed according to the fully washed method. Gayo Mountain Coffee :
Gayo Mountain coffee is grown on the hillsides surrounding the town of Takengon and Lake Tawar, at the northern tip of Sumatra, in the region of Aceh. The altitude in the production area averages between 1,110 and 1,300 meters. Coffee from this region contains uniqueness because processed at farm-level, using traditional wet methods. Due to the processing, Gayo Mountain coffee is described as higher toned and lighter bodied than the others Sumatra Coffee. Sumatera Mandheling Coffee :
Mandheling is a trade name, used for Arabica coffee from northern Sumatra. It was derived from the name of the Mandailing people, who produce coffee in the Tapanuli region of Sumatra. Toraja Kalosi Coffee :
Toraja: The primary region for high altitude Arabica production is a mountainous area called Tana Toraja, at the central highlands of South Sulawesi. The people of Tana Toraja build distinctively shaped houses and maintain ancient and complex rituals related to death and the afterlife. This respect for tradition is also found in way when process their coffee. Arabica East Java Coffee :
Arabica West Java coffee is primarily grown on large estates that were built by the Dutch in the 18th century. The five largest estates are Blawan (also spelled Belawan or Blauan), Jampit (or Djampit), Pancoer (or Pancur), Kayumas and Tugosari, and they cover more than 4,000 hectares. Arabica Bali Coffee
Arabica Bali is primarily grown on the highland plateau of Kintamani, between the volcanoes of Batukaru and Agung, is the main coffee growing area. Many coffee farmers on Bali are members of a traditional farming system called Subak Abian, which is based on the Hindu philosophy of "Tri Hita Karana”. According to this philosophy, the three causes of happiness are good relations with God, other people and the environment. The Subak Abian system is ideally suited to the production of organic coffee production. Robusta Lampung Coffee
Robusta Lampung: Robusta Lampung is generally grown at an altitude of 400-700 meters above sea level with temperature of 21-24oC. Incidentally, Lampung region has such a natural condition suitable for the type of Robusta. Robusta coffee plantations have also been developed in many areas of Lampung province, especially in the region of West Lampung. Papua Coffee
Papua: There are two main coffee growing areas in Papua. The first is the Baliem Valley, in the central highlands of the Jayawijaya region, surrounding the town of Wamena. The second is the Kamu Valley in the Nabire Region, at the eastern edge of the central highlands, surrounding the town of Moanemani. Both areas lie at altitudes between 1,400 and 2000 meters, creating ideal conditions for Arabica production.

PVJ COFFEE READY STOCK...!
08/04/2015

PVJ COFFEE READY STOCK...!

Paris House Blend
08/04/2015

Paris House Blend

03/06/2014

Specialty Coffee Beans Of Indonesia
Paris van Java Specialty Coffee

address : Taman Cihanjuang Kav. 40
Kabupaten Bandung Barat
Jawa Barat
Indonesia


Pieter EngelhardTersebutlah Johan van Hoorn dan Hendrik Zwaardecroon, dua orang Belanda yang pertama mencoba menanam kop...
10/06/2013

Pieter Engelhard

Tersebutlah Johan van Hoorn dan Hendrik Zwaardecroon, dua orang Belanda yang pertama mencoba menanam kopi di daerah Batavia dan Priangan, kira-kira th. 1700. Iklim dan bibit yang kurang baik, membuat usaha penanaman komoditi langka di pasaran Eropa itu tidak berhasil baik.
Upaya serupa lalu dilakukan Pieter Engelhard. Ia membuka perkebunan kopi didaerah selatan lereng Gunung Tangkuban Parahu, beberapa puluh pal dari kota Bandung. Lokasi perkebunan itu tepatnya di tanjakan Jl. Setiabudhi sekarang (Ledeng-UPI). Penanaman kopi yang dimulai th. 1789 itu berhasil baik. Hasil yang paling memuaskan baru diperoleh th. 1807, setelahEngelhard mengerahkan ratusan penduduk pribumi. Kopi Tangkuban Parahu itu dikenal di Eropa sebagai Javakoffie dan langsung mendapat pasaran tinggi. Javakoffie juga menggantikan kopi pait-buruk dan tidak enak yang banyak dihidangkan le mauvais Cafe de Batavia (kopi buruk di Batavia) di awal abad ke-18.
Bibit kopi Engelhar kemudia menyebar luas ke perkebunan kopi lainnya di lereng Gunung Patuha, Mandalawangi, Galunggung, dan Gunung Malabar. Sejak itu banyak penduduk pribumi Priangan yang beralih kerja dari sawah ke perkebunan kopi.

Andries de Wilde

Dokter Andries de Wilde adalah seorang tuan tanah pertama di daerah Priangan, Sebetulnya ia seorang ahli bedah (Chirurg) yang berdinas pada pas**an artileri tentara Belanda. Kemudian ia diangkat menjadi pembantu utama Herman Wilem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Ketika Inggris berkuasa di Hindia Belanda, Andries de Wilde sempat mengikat persahabatan dengan Luitenant Gouverneur Thomas Stamford Raffles(Gubernur Inggris untuk Indonesia). De Wilde bahkan diangkat sebagai Assistant to the Resident at Bandong (Residen Bandung) pada 10 Agustus 1812. Tapi jabatan itu tidak lama dipegangnya karena berselisih pendapat dengan Residen Macquoid, yang lalu memecatnya. Tapi Raffles mengangkatnya kembali sebagai pengawas penanaman kopi (“Koffie Opziener) yang berkedudukan di Tarogong – Garut.
Pada masa Daendels, de Wilde telah memiliki tanah yang luas di jasinga-Bogor dan Cimelati-Sukabumi. Ketika menjadi “Koffie Opziener” de Wilde mengajukan permohonan kepada pemerintah Belanda agar diizinkan menukar tanahnya di Bogor dan Sukabumi dengan sebidang tanah di Bandung Utara. Tanah pengganti itu meliuti wilayah yang luas memanjang, dari Cimahi di Barat sampai Cibeusi di timur. Sebelah utara dibatasi Gunung Tangkuban Parahu, sedangkan selatan dibatasi jalan raya pos. Berarti, setengah dari luas Kab. Bandung sekarang, dimiliki Andries de Wilde seorang. Selain bertanam kopi, de Wilde juga beternak sapi, dengan puluhan budak belian sebagai pekerja kebunnya.
Dokter Andries de Wilde menikah dengan mojang Priangan dan mendirikan vila indah di “Kampung Banong”. Kira-kira di daerah D**o Atas. Di tanah bekas gudang kopi miliknya didirikan Gedong Papak yang sekarang kita kenal sebagai kantor Pemerintah Kota Bandung (Balai Kota).
Perjalanan hidup de Wilde ternyata tidak mulus. Masa Gubernur Jenderal Van der Capellen kepemilikan tanahnya dibatalkan Pemerintah Hindia Belanda. Dalam keadaan bangkrut ia pulang ke Negeri Belanda untuk mengadu kepada raja Willem.

Franz Wilhelm Junghuhn

Franz Wilhelm Junghuhn adalah seorang penjelajah keturunan Jerman yang dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan tanaman kina. Orang pertama yang membawa kina ke P. Jawa adalah Blume, th 1829. Selama jangka th. 1830-1837, usaha penanaman kina (Chincona-latin), telah dilakukan Korthals, Reinwaldt, Fritze, dan Junghuhn, namun gagal.
Gubernur Jenderal Pahud menginstruksikan Junghuhn agar mencari benih kina varietas unggul ke Amerika Selatan, pekerjaan ini dilakukan Dr. Hasskarl Desember 1854. Pengembangan tanaman kina dari bibit yang dibawa Hasskarl mencapai hasil yang memuaskan. F.W. Junghuhn adalah orang yang mengangkat nama Bandung dikenal sebagai penghasil bubuk kina utama di dunia. Pada masa sebelum perang dunia ke-2, lebih dari 90% kebutuhan kina dunia, dicukupi oleh perkebunan dan pabrik kina di wilayah sekitar Bandung.
Dunia ilmiah mencatat Junghuhn sebagai ilmuwan, penyelidik alam, petualang, pengembara, dan pecinta alam sejati. Ia adalah seorang yang selalumenganjurkan agar manusia bergaul dengan alam, mencintainya dan mencari kebahagiaan di dalamnya. Ia menulis tentang itu saat berusia 26 tahun, di atas kapal yang membawanya ke P. Jawa tahun 1835. Lewat hasil penyelidikannya tentang flora dan fauna, geografi, geologi, iklim, dan sosiografi penduduk P. Jawa, terutama daerah Priangan, para pengusaha Belanda dapat menentukan lokasi yang tepat untuk daerah perkebunan dengan jenis tanaman yang sesuai dengan lingkungannya. Hasil penyelidikan Junghuhn dibukukan dalam 4 jilid berjudul Java, Gravenhage 1853.

Selain ketiga orang itu, ada beberapa nama lain yang patut dikenal karena mereka pelopor usaha perkebunan teh. Para theeplanters (pengusaha teh) ini s**a disebut “de theenjonkers van Preanger” (para Pangeran Kerajaan teh di Priangan). Keluarga ini banyak menurunkan intelektual yang menguasai kebudayaan Indonesia. Beberapa nama yang cukup dikenal, antara lain : Van der Huchts, de Kerkhovens, de Holles, Van Motmans, de Bosscha’s, Families Mundts, Denninghoff Stelling, dan Van Heeckeren van Walien.
Karena mereka hidup di pegunungan teh, mereka lebih akrab bergaul dengan bangsa pribumi, para kuli perkebunan. Karel Frederik Holle, anak sulung keluarga Holle, semula seorang Komis di Kantor Karesidenan Priangan di Cianjur. Ia selalu menggunakan bahasa Sunda. Begitu fasihnya sampai temannya mengatakan “Dia bicara bahasa Sunda seperti orang Sunda”. Th. 1857, K.F.Holle ditunjuk sebagai kuasa perkebunan teh di Cikajang – Garut, dan disini mendalami kebudayaan dan sejarah kuno Sunda. Sebuah patung peringatan didirikan orang di Alun-alun Garut, untuk mengabadikan jasa-jasanya. Adik Karel Holle, Herman Hendrik Holle tak kurang seriusnya dalam menelaah kenudayaan Sunda. Sehari-hari ia memakai sarung dan baju kampret dan peci. Ia sering lesehan di pendopo Kab. Sumedang sambil menggesek rebab. Kegilaannya pada gamelan, terkadang mebuatnya lupa beristirahat dan memainkan instrumen mulai pk. 8 pagi sampai pk. 24 malam.
Keluarga Kerkhoven dan Bosscha dikenal warga Bandung sebagai donatur berdirinya Technische Hoogeschool (ITB sekarang) di Bandung. Laboratorium IPA di TH dan Bosscha Sterrenwacht (Peneropongan Bintang) di Lembang, merupakan saksi abadi yang menunjukkan betapa besar sumbangan mereka terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di Bandung.
Sedangkan keluarga Van Heeckeren memberikan andil bagi pengembangan ilmu pengetahuan sejarah di Indonesia. Salah satu putra keluarga Heeckeren, menjadi sarjana sejarah purbakala Indonesia bertaraf Internasional.

(EL/GM/Bandoeng Tempo Doeloe)

09/06/2013
From The High Mountains of Indonesia
07/06/2013

From The High Mountains of Indonesia

Paris van Java Specialty Coffee
24/04/2013

Paris van Java Specialty Coffee

Address

Taman Cihanjuang Kav. 40
Bandung Satu
40152

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Paris van Java Specialty Coffee posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Restaurant

Send a message to Paris van Java Specialty Coffee:

Share

Category